31 July 2011

meninggalkan kenangan,,

Ada serpih-serpih yang menelisik luka. Berbaur bersama ingatan, berlarian bersama kenangan yang tak kan hilang dalam sekejap kedipan, atau sekedip hembusan.

27 June 2011

mendulangi hikmah

Ada hikmah yang tak selalu terejawantah,, kita yang harus memungutnya dalam bebagai rupa yang begitu pun rupa... berguling, beringsut pekat, memanjat, dan sebagainya pun terlalu sebagai laku yang berniat mengusut hikmat...


kesakitan mungkin tak berarti dibanding nilai yang berlaku,
nilai yang menjadi hak nya mereka yang berhak "para pendulang hikmah"


sekian kali merasa dalam berbagai episode hidup yang berlaku, pun timbul pula nganga luka yang terbaru..
ah! mungkin luka yang menganga itu adalah liang yang tersiapkan, dimana sauran hikmah itu harus terkubur dalam, meresap dalam hati menjadi zat inti yang akan membentuk rupa hati yang baru..

Sedikit Luka,,

Boleh kah aku berkeluh kesah? Bercerita sekedar tuk menebar hikmah..? Atau ah jangan-jangan nanti malah ada yang menyangka aku malah mengumbar aib orang lain. Aib siapa..? toh yang baca pun tak tahu siapa rupa objek dalam cerita... Boleh kah aku mencurahkan hati..? Menuangkan segala luka dan sedih dalam dada? Atau ah jangan-jangan nanti malah ada yang bilang aku "ember bocor" yang tak tahan mengumbar cerita, cari perhatian dan sebagainya..


Lalu apakah luka yang kurasa masih harus tepat menganga..? membiarkan ini menjadi nikmat "pahit" yang harus kutelan sendiri tanpa sadar aku pun punya hak tuk mencari solusi bukan malah berdiam diri..?
Lagipula toh aku sudah bercerita...
Apa seganmu hingga kau takut segala yang kau laku terkuak media..? sekalipun hanya media maya..? *hey ya, sudahlah! aku sedang berbicara dengan siapa?*

17 March 2011

Mario teguh 1 (Indahkan jiwamu)

Adikku yang merindukan belahan jiwamu,
Kualitas yang terpenting bukan pada orang yang kau harapkan menjadi belahan jiwa, tapi padamu yang akan jatuh cinta kepadanya.
Jika engkau tidak membeningkan hati, menjernihkan pikiran, dan tidak mengindahkan perilakumu; engkau akan mudah jatuh cinta kepada pribadi yang akan mengecewakanmu.
Belahan jiwamu hanya seindah jiwamu.


Mario Teguh

MTSuperSMS.com | Indahkanlah Jiwamu

Tak ada judul



Di puncak dambaan, akhrnya hanya tersimpan rindu tak tertahankan, tanpa tahu kepastian, kepada siapa kan kutambatkan?Aku membutuhkannya untuk melihatmu,, lalu mana yang lebih penting? dirinya atau dirimu?

Tak ada kata serah menyerah, ketika harapan masih terbentang sekalipun logika menyatakan ketidaksepakatannya..

Tak ada kepastian yang pasti, bahkan pasti terkadang menjadi hal yang nisbi elakkan suatu yang hakiki..

Syairku

Rona selukis paham akan qaul senyuman gadis perawan..   
Arti nafas berundak-undakan dalam gemuruh retak batang pinang..   
Tarik menarik jiwa galau mengubak pelicak..   
Orang asing mengasah parang, anak manis menggulai senyum...  
Mengibas percik air siraman padas, tak dingin, tak suram...  
Pelik masalah, segumpal hati terancam...  

Ini hanya sayembara dalam permainan kata, siapa yang tetas mengurai makna dialah pahlawannya...

04 March 2011

Rindu Galau dan Darurat



Aku rindu dalam galau yang saking, tak terbagai apapun..

Aku rindu dalam galau yang lengking, tak termisal suatupun.. 

Aku rindu dalam galau yang bising, tak terupa apapun..

Ada hati yang terjaga, dalam jarak dan ruang yang tak pernah mengada.. 


Sebelum realita..

11 February 2011

Gadis, ini hanya sekedar...



A.E.P. (28-01-2011 ; 23:11
 
 

Gadis, jangan pernah kau ragukan jiwa ini, yang rela meringis tersia-sia dalam eksistensi dunia. Sesenggukan mencari warna air mata. hanya agar warnamu tetap terpatri nyata.

Gadis, usah kau malu tuk datang meminta. do'aku begitu nyata, namamu jelsa kusebut dalam sajak gemulainya.

Gadis, janganlah lagi kau usaha membohongi hati. ikhalasmu berubah jadi duri. Topeng kaku menghias diri. Karena aku tak akan rela kau tersakiti.

Gadis usah kau urungkan langkah kaki. Terjal takkan pernah berarti, jika semangatmu telah membumbung tinggi. Lagipula di pusara bukit berawan ini, aku menanti.

Gadis, yakinlah! kecantikanmu adalah abadi. Karena ia hadir murni dari hati. bukan dari poles warna-warni duniawi, begitu suci.

Gadis, menangislah! jika air mata itu tak mampu lagi menghalau galau hati. Biarkan ia menjadi banjir bandang yang menghanyutkan penghalang yang rintang.

Gadis, tak ada lagi alasan dan kalimat penggugah serah menyerah. Karena alasan hanya tersedia jika kau ragu berbuat kebaikan, alasan yang tersedia untukmu urungkan serah. Kebaikan menunggu dalam bahagia dan berkah membuncah.

Suicide,, *abaikan saja*

Kadang rasanya aku ingin ada seseorang yang dengan baik hati menikam punggungku dari belakang. Sampai-sampai otot-otot itu tercabik, sampai darah itu mengucur luncur... Bebas, kebas, hingga tubuh hini benar-benar lemas.

Bukan! bukanlah aku bodoh, bukan pula karena aku gila! mengharap ada malaikat menghujamku dengan belati tajam,, Ahh! tumpul pun tak masalah, yang penting belati itu menikam.

Aku hanya ingin tahu sesakit apakah ketika daging-daging di tubuh ini terkoyak. Senyaring apa ternggorokan ini akan mekreasikan teriak.

Aku hanya ingin tahu selemas apa ketika literan darah yang awalnya mengalir hangat dalam kapiler, tiba-tiba muncrat berwarna merah pekat.

Lalu aku hanya ingin tahu seberapa jernih otakku menggelut sensor-sensor logis ketika dalam satu waktu disandingkan dengan respon-respon katarsis yang begitu mengiris..

Ahhhh...ada begitu banyak rasa sakit yang terus menerus didefinisi otak (yang beratnya hanya sekitar satu koma sekian kilogram, namun hanya dioptimal fungsikan dalam sekian gram bahagiannya saja) Sakit itu terus eksis mengkatarsis pada setiap unsur dari tiga unsur mahluk berklasifikasi manusia. fisik, akal, dan jiwa.

Lalu pada bagian mana yang  paling sakit? Ah mengapa aku begitu ingin menikmati setiap respon kesakitan yang disajikan? penikmat katarsis.. 

Bukan..!! mungkin aku hanya ingin menutupi rasa nyeri yang mendera hati dengan mengilu pilu. Yang mungkin disajikan oleh otot dan darh yang terkoyak. Alangkah rasa sakit dalam jiwa itu hilang..??

Ahhh, sialll!! ternyata sakit dalam jiwa itu bertambah parah seiring irisan nadi yang berdarah-darah...



02 February 2011

This is the story 'about our daddy,, :') (part 2)



Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…..
“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…
aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …
aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…
aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…
Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang wanita muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

This is the story 'about our daddy,, :')





Kisah ini dikirimkan oleh salah seorang sahabat atau mungkin saudara dari dunia maya, really a touching story... :') 

Yang Terlupakan.. 
bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.. akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.. Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang" Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!". Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja.... Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!". Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :') Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu.. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...dan setelah perasaan khawatir itu berlarut- larut... ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? "Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa".
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti... Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa.... dan kamu harus pergi kuliah dikota lain... Papa harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat. Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang". Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan... Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!".  Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu". Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang" Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..Karena Papa tahu.....Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya.... Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa.... Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.... Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.... Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.... Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....Papa telah menyelesaikan tugasnya....Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita... Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat... Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..



tragedi *lebay c*

Tragedi, serisan deh! ini tragedi..memang lebay, tapi menurut saya ini tragedi. Jangan terlalu mendramatisir keadaan, tapi emang sekarang keadaan sedang dramatis. Dan mungkin saja saya sedang berada dalam kondisi yang amat sangat melankolis. Hah?! bahkan mungkin tujuan dari tulisan ini sekarang sedang tak tertangkap..

Oh The Mighty Allah...!!

!&%^*#&$&*^)$%(^&_%(&#%*)%*^)$%*^(*$&%#)*#$^$@*^%&*)#^*((&)*^

oke, cukup sudah bagian *menyampah*..!

Mari redefinisi masalah. apa yang saya sebut keadaan dramatis? Saya yang hanya mampu mengandalkan kemampuan berbicara secara dramatis kehilangan kata-kata. Saya dengan seketika kehilangan kebijakan yang seharusnya selalu berada di ujung lidah, di tiap tetes liur yang saya kecap maupun saya telan. Namun kali ini, mereka semua secara dramatis, HILANG! Saya hanya seorang penikmat hidup biasa. Saya pun bukan orang yang luar biasa dengan pemikiran luar biasa seperti Mario Teguh dengan motivasi luar biasanya, dan atau Lao Tse dengan perenungan dan filsafatnya yang mendalam tentang kehidupan. Ah! saya hanya manusia biasa, dan penikmat hidup yang juga sangat biasa..

Saya hanya mampu merasa menjadi luar biasa ketika mampu menyalurkan energi postive yang saya miliki, hanya dengan kata-kata. Saya hanya mampu menjadi seorang pembijak hidup setelah menjadi seorang penikmat hidup ketika saya mampu mengalirkan apa yang saya rasakan dan pikirkan dalan untaian kata-kata. dan sekarang, secara dramatis kata-kata itu pergi.




Hari ini terlalu banyak hal-hal sentimentil yang saya hadapi, dan kini kata-kata sedang meringkuk dalam ruang kebijakan yang sekarang terkunci di dalam dengan anak kunci yang entah kemana. ketik apertanyaan drastis diluncurkan, hanya mampu terdiam tanpa kebijakan..

Yang namanya perasaan kadang harus di endapkan, tak melulu harus langsung diluapkan. Tragis, ketika suatu waktu hal ini kembali terjadi, Tragedi ketika suatu hari hal ini terulang lagi. Aku kehilangan Kebijakan.??!!!

25 January 2011

Merinduimu..

Merinduimu adalah gerimis berdahak yang tak tuntas.
Menggores-gores kerongkongan langit, hanya dengan baris namamu..
Horison pasrah merona merah.

Merinduimu yang tak kenal kata habis.
Serupa kerakal nakal di padang bebatu, tak mengenal rumput penghijau tanah atau lumut biru penyerpih pasir..
Menghujam bumi, mendalam gemakan namamu..
Bumi guncang, gempa.

Merinduimu yang tak putus-putus.
Layaknya qoul sang penyair yang bersiar begitu suar...
Setiap kali harmoni sektet tercipta, rindumu kembali menemukan tanda lahir yang rupa.

Merinduimu yang tak tempuh wajah henti.
Sewajah angin yang dalam gemulai memindah milah kan gunung-gunung pasir gurun..
Yang dalam desah tanpa lelahnya menarikan nyanyian para pejuang kerinduan.

Merinduimu yang acuhkan garis finish.
Adalah tasbih para perindu..
Memuja muji dalam tetes-tetes perih nan dinikmati..

17 January 2011

Racun Kecantikan.. :D

A.E.P. (29-11-10; 03.39)

Aku cantik, ketika aku sedang tidak jatuh cinta...
Tak cemburu, tak bersaing, tak curiga, tak prasangka..

Hahahaha...!
Jatuh cinta membuatku selalu buruk rupa..
Di depan kaca mematut diri, berkata
"Mengapa aku tak seperti dirinya? wanita muda, dengan bibir merah delima, memadu wajah cantik jelita..."
Sekali lagi, jatuh cinta membuatku selalu buruk rupa..

Aaaiiiihhhh..!
Lagi-lagi jatuh cinta membuatku selalu buruk rupa..
Kain indah melekat di atas kulit hanya serupa daun kering, kusam, rusak..
"Apa tak ada pakaian lebih indah dan cerah dari ini..?!"

Ckckckckck...
Jatuh cinta benar-benar membuatku buruk rupa..
Emas perak mutiara bercahaya perhiasan para wanita, terongok tak berdaya serupa kerakal usang berat tak berwarna selain kelam..

Aduhai..!
Aku cantik ketika aku sedang tidak jatuh cinta..
Jatuh cinta membuatku selalu saja merasa menjadi si buriuk rupa...

"Kepada siapa rupanya aku sedang jatuh cinta?"

Ohh, Pantas saja..!
Aku sedang jatuh cinta,
Jatuh cinta pada... DUNIA..!

Jatuh cinta yang membuatku selalu buruk rupa, lebih buruk rupa dari seburuk-buruknya rupa..

Alamak..! Aku memang cantik, ketika aku sedang tidak jatuh cinta.. :

16 January 2011

Tulang rusuk itu bengkok adanya..

A.E.P. (24-11-2010; 23.59) 
Tulang rusuk itu bengkok adanya..

Tidakkah engkau lihat? ia hanyalah sekedar tulang rusuk, yang bengkok..
Yang dengan perumpamaan itulah dia tercipta..

 

Ia memang bengkok sebagaimana penampakannya, 
jika kau membiarkannya maka tetaplah ia bengkok seperti apa adanya..
Namun, jika kau berhasrat meluruskannya.. maka patahlah oh dirinya..

Kini telah pula kembali kuretas tanya, 
apa yang kau harap hingga hasrat ingin luruskan bengkok dirinya?
Berbahayakah ia dengan ruas bengkok nya?
Beracunkah ia dengan galur miringnya?

Mengancamkah ia dengan garis lengkungnya?
Tidakkah memang begitulah tulang rusuk tercipta dengan kebengkokannya?

Pernahkah terbersit.. Akan kemanakah langkah manfaatnya jika ia menjadi tulang rusukmu yang lurus?Tidakkah ia justru akan menyakiti tubuhmu..? Tulang rusuk mana pula yang tak bengkok?

Tidakkah pula ia lebih menebar guna jika dengan keadaan ia yang bengkok?
karena ia memang bengkok, beriringan dengan kodrat kebengkokannya...
Melindungi hatimu, namun dilindungi lenganmu..
Masihkah kau ingin meluruskannya..??

05 January 2011

Dilbar Dilara mu...

Temaran malam jadi saksi setengah gulita, ketika mala mini aku kembali mencoba meraba ukiran kenangan dan rasa pada relung-relung berwarna di sudut jiwa. Menyentuhnya dalam setiap micrometer perubahanya. Menafsir gurat dan yang tergerat di lembar bahasanya .

Inilah cinta yang telah kupaham maknanya. Ku mengerti apa inginnya. Pun pula sangat ingin kuturuti tiap desah kemauannya. Aku ingin, sangat ingin. Pun pula malu, amat sangat malu. Ingat khilaf kuturuti nafsu karena cintaku. Aku tahu apa inginmu, tapi itu dulu. Saat aku tak terpengaruh ucapanmu. Sayangnya begitu. Seakan waktu melambat. Kian terserak seperti rambut-rambut rontok yang berontak. Dan kini semua sama. Semua begitu berbeda. Aku pilu dalam rindu kelu di ruang kalbu yang tersayat cemburu. Dan kau pergi seolah tak pernah lagi peduli apakah aku akan bertahan dalam hidup atau mati. Berjalan angkuh menjauhkan diri, seakan merasa menang telah menaklukan hati. Meninggalkan aku yang terpuruk sendiri, meringis mengiris tangis memegangi hati. Menunggu bunga yang kau tawarkan harumnya namun tak kau berikan wujudnya, yang tersisa hanya getah lengketnya yang bernoda. Hingga air mata pun sudah tak mampu lagi menjadi pengurai kata. Aku meringis pilu, bisu.

Aku tahu aku bukanlah seorang lemah yang tak mampu membuang hati dengan rasa yang telah kau toreh warna. Yang telah kau rekat dengan getah lengket bernoda yang sungguh membuatku begitu kepayahan mengartikan harum bungamu. Kau tahu? Jemariku mampu menghapus ukiran namamu di dinding benderang berwarna merah jambu itu, merobek dan membuangnya dalam tempat sampah untuk kemudian kubakar bersama sumpah serapah hingga abunya beterbangan tertiup angin kelegawaan. Menghancurkan dinding-dinding yang penuh lukisan wajahmu berkeping-keping menjadi puing-puing berpasir tak bermakna. Mencabik-cabik lembar-lembar hari yang dulu kau semat kata-kata manis beraroma cinta. Ketahuilah! Aku mampu, sungguh aku mampu..!

Namun jangan paksa aku untuk melakukan semua itu. Kumohon! Bukankah tak ada satupun pintaku yang pernah kau Kabul melainkan karena paksa dariku? Kali ini kumohon padamu jangan paksa aku untuk melakukan itu. Ataukah aku yang harus memaksamu untuk tidak memaksaku? Maka kumohon dengan sangat, jangan pernah memaksaku untuk menghapus namamu dari relungku. Menghancurkan lukisan wajahmu dalam dinding sanubariku. Mengoyak lembar kenangan yang kau ukir dengan kalimat rindumu. Sekalipun hatiku mampu namun nuraniku menolak, tak mau lakukan itu.

Karena dalam serpih hati ku.. masih ada harap, namaku tersimpan rapat dalam ruang rahasia di dadamu, lukisan wajahku menghiasi dimensi hatimu, puisis-puisi rinduku menjadi cahaya-cahaya yang menghangatkan dan memeluk jiwamu…suatu saat di waktu yang mengabadi aku lah yang akan bertahta, menjadi debaran hati kekasih bagimu, dilbar dilara mu..dan itu aku..

01 January 2011

Janggalku, hatiku...

Ada janggal merebak di hati, entah mengapa semakin hari kau semakin jauh pergi. Sudah kau temukan kah “dia” seorang yang kau cari? Seorang yang kau putuskan untuk mendampingi serta menemanimu sampai mati. Atau kau sedang berlari? Menghindar dariku yang mungkin tak lagi kau gemari. Atau apalagi? Benarkah diriku berarti seperti yang kau katakan suatu hari?Seiring kebit hati yang sengaja kau toreh dengan kata-kata jeri.

Tahukah kau , aku selalu memanti. Aku tetap disini, sambil menatap awan yang menggumpal seperti gulali, memeluk hawa angin yang menyejuk hati, menelan gagah pegunungan dengan hijau bersemi. Berharap suatu saat kau pasti kembali.

Merasakankah dirimu, ketika setiap kali aku cemburu? Kau tak mau lagi berbincang denganku, tapi lebih sering merayunya yang dulu telah menggores luka hatiku dengan sembilu biru. Tahukah kau luka itu masih menganga ngilu. Meski aku hanya mampu diam membisu. Cemburu, ku ikhlas kan luka itu mengabadi dalam palung do’aku.

Seribu lebih cara ku buat untuk melukis senyummu di pipi. Seribu lebih pula cara ku buat agar kau mampu merasakan apa yang kali ini sedang bergejolak di hati. Ku lukis wajahmu dengan merah darah, biru cemburu, dan menguning nanah… ku encerkan dengan air mataku yang membuncah. Namun kau taku kunjung kemari lagi. Aku kembali menangis jeri.

Mengapa pula kau hadir ketika kau berteriak perih? Berontak akan lara hati, terpuruk dalam jiwa yang merasa ingin mati. Jika ku ingin beranjak, mengapa pula kau yang berontak? Dan kembali aku yang tersentak, tak tahu apa ingin dan mau mu yang tak pernah kau kuak. Sekalipun kau kembali, hanya untuk menggores luka jeri, lagi. Entah mengapa, aku tetap saja tak mampu benci.

Akankah pengorbanan sebanyak ini membuatku berhenti? Menjadi puing dan sia-sia..?

Aku menangis menahan rindu, menjerit dalam kelu. Aku meringis menghalau cemburu, berteriak dalam bisu. Terbanting-banting dalam harapku. Suatu saat kau akan dating padaku. Kumohon, berikan keyakinan itu padaku! Pun jika tidak, ku akan tetap menanti hingga takdir mengoyak ruang dan waktu.

15 December 2010

untukku untukmu..

Kamu kenapa? Katakanlah! 

Aku menjadi tuli atas teriakanmu yang menggumam. Aku menjadi buta atas gerakanmu yang tak beranjak. Dan aku terlalu bodoh untuk mengerti bahasa diam yang kau utarakan. 

Jujurlah kali ini, aku akan lebih banyak  diam dan mendengarkan. Bukan! Aku akan diam dan lebih banyak merasakan. Kau tak terlihat, bukan lantas kau tak ada. Aku dank au hanya terhalang hijab yang terhampar.  

Maafkan, aku terlalu banyak berkicau dan tak mengindahkan dahan. Aku tak mampu mendengar suaramu pada ujung dedaunan dan akar. Aku tak mampu menangkap dialogmu dengan desah kayu. Aku tak mampu menangkap arti balahmu dengan  tamparan mentari. 

Aku tetap disini, menanti dan menunggumu kembali mengajariku bahasamu yang tak pernah ku mengerti.


14 December 2010

Pada Akhirnya aku Selingkuh..


Aku termangu dalam bisu menderu, merangsak qalbi yang beku.Dulu, kau datang dengan tiba-tiba melempar senyum malu-malu.Sejurus kemudian kau lalu bilang "I Love You". Aku ragu, namun tak kuasa ku menolak keberanianmu.

Dunia berputar, awan berubah bentuk, laut pun surut. Secepat kau menyematkan sayap cinta, secepat itu pula duniaku dan duniamu meledak, hancur, baur, rapuh, dan terancam punah musnah. Kala tika, dua bulan kemudian kudapat undangan perhelatan pembukaan gerbang hidup mu dalam lembaran yang baru. Miris. Bukan denganku. Aku patah hati.

Dalam runut ku merangkak memungut serpih hati yang terserak, tapi tanpa ku nyana kau masih datang dengan cinta yang congkak. "I am still loving you", tak tahan rupanya kau menahan sakit. Datang kembali rupanya kau padaku. Aku haru dalam jiwa mengaduk saru, cintamu menggamit hatiku. Tak lain aku marah, namun aku pu tak mampu berkelit cinta itu masih merah menyala.

Begitulah, cinta itu masih ada pun ketika kau telah berdua. Dunia ku berwarna dibalik layar sandiwara.

02 November 2010

Apa inginnya hati ini...



Dont you ever think that I don't know anything, I'm just not that naive..Have you ever think that I have just being pretending to don't know the thing, sweetheart..??


Namun apa daya, bukankah sudah kubilang aku tak punya hak padamu? bukankah belum ada ijab yang meng "halal" kan kita?lalu apa yang ku ingin kan? semoga kau tahu jawabannya...

Dalam hal ini aku hanya menakutkan satu hal, bahwa kau hadir di sini hanya sekedar untuk menumpang bermain pasir dalam kamar berkelambu, setelah puas maka kau lari...

Semoga kau tahu jawabnya, apa inginnya hati ini..