12 May 2012

Sebuta cinta...

Sajak yang tak kuhafal satu-satu. Rinai yang tak kurenai kaku-kaku. Kutela rindu, membatu bisu...
"Bacakan aku puisi, cinta" 
Akhirnya aku tahu bahwa cinta itu buta, ribuan sajak kubuat tak satupun kau lihat? Itu untukmu!


Kemana cinta sembunyikan mata? Sedemikan buta tak cermat cela... 
Tenanglah, cinta tak sumbat telinga! 
Buta buta buta buta buta buta buta buta.... 
Atau aku yang kurang nyata? Butuh ukuran berapa?!


Atau... tak bisakah cinta, sedikit mengintip..?

Seruang tempurung, kebul waktu berdentum-dentum. Pada sapa yang tak senyum, pada pekat pukat rindu yang tak jerat.


10 May 2012

Cinta dibalik Punggung..



Akulah cinta di balik punggung. 
Meniup tengkuk, tinggikan roma. 
Menggantung pada masa lalu, tak berujung.

Di Balik punggung, tak terdekap. 
Tatap, jadilah itu sekedar harap. 
Tak kau cari dalam muka, sekalipun cinta terasa.

Menggelitik liat belikat, mengikat punggung mengakar kuat. 
Akulah cinta di balik punggung, ingat!

Membentang sajak panjang siap terbuang. 
Buat jalanmu pincang. 
Akulah, cinta. 
Di balik punggungmu yang bidang.

30 April 2012

Grumbling!


So what should I do to fix every failure which happend because of my own fault..? To face it bravely, lightly. Why it’s feel so hard to face our own mistaken done.  It’s only need our compromize to  ourself to set all the things right, right? I knew that it’s all my own fault, but why did I couldn’t accept that I’ve fault..? 

Aaaaaa...



Seperti nafas-nafas yang terengah merekati nyawa yang sedang terpuntir-puntir menggelinding di jejalan kasar yang tanpa rasa siap meluka melahirkan dedarah mengucur sebagai korban terduga dari alur alur tak terbaca dalam tetes-tetes air mata yang tidak pernah mereka raba sedalam apa luka yang telah mereka gurat didalam dada yang berdiam meng'engah-engah akan kah hidup tanpa jengah...

07 March 2012

Aku hanya memastikan yang berharga.




Sejak kapan aku mulai belajar untuk tak lagi belajar tuk menuangkan galau ku pada lembar-lembar tersurat. Entah. Mungkin sejak aku tahu bahwa kau tak lagi datang padaku, sejak kapan itu. Entah. Semua tanya masih saja berujung entah. Tanya yang entah. Jalan yang pun masihlah entah. Mengirikan dia yang mampu mengurai kegalauan dalam baris-baris kalimat yang menggurat-gurat. Yang pasti ku tahu memang tak mudah menghapus namamu yang sudah sekian lama tersurat dalam bening hati yang kesat. Ah, cinta memang selalu mampu menuang cerita, noda, entah suka duka dan murka.

Kau tahu mengapa aku semarah itu kemarin? Padahal sudah sangat besar cinta yang ku urung dan jalin. Menanti kau hadir dalam harap dan ingin. Sebegitu luas harap dalam tatap, cakap dan dekap. Ah kau begitu sangat kurindukan. Sangat. Namun ternyata aku dan kau sedang bermain-main dengan kenyataan. Kau mulai kembali sandiwara-sandiwara entah dengan tujuan apa. Yang tak pernah ku tau jawab, kecuali tanya.
Kuikuti fakta, otak mencerna realita. Kau sudah berpunya “lagi” katamu. Namun tetiba tetap saja kau datang kembali padaku.

Kau bilang begitu menghargaiku, menempatkanku dalam tempatan tinggi dalam penghormatanmu. Ah sungguh kuhargai itu, sekalipun tak sejalan dengan tindakanmu, yang malah memposisikanku sebegitu, tuan. Ah, aku nampak tak bernilaian.

Itulah kenapa, kau tak usah heran. Sebesar apapun cinta yang telah kusimpan, maka ia kan kusisihkan. Aku pilih harga diri, tinggi. Hanya dengan satu harap. Siapapun nanti dia yang akan datang, entah orang lain atau dirimu yang lebih baik, maka aku masih mampu memastikan bahwa kalian tetap mendapatkan gadis yang benar berharga. Aku, yang berusaha sekuat tenaga menjaga harga dirinya, pun di hadapan cinta.

19 January 2012

Satu hatiku,,

Kau tahu, aku hanya punya hati yang bisa aku banggakan.
Tidaklah aku cantik seperti mereka, tidak pula pintar seperti gadis lainnya.. Tak, takdirku taklah seindah itu, tuan...
Lalu apa lagi yang dapat aku pertahankan?
Aku hanya punya hati..
Kumohon dengan hormat, jangan kau rusak, jangan pula kau sakiti, janganlah lagi kau tebar virus-virus aneh pengerucut diri...
Kau tahu tuan, aku hanya punya satu hati...

09 January 2012

Geram..

Mengapa tak hendak jujur...?
Sebesar apa ancam yang pernah ku kecam, tak pernah! walaupn se-geram.
Lalu sulitkah tuk siar yang benar, sementara rahasia selalu kau umbar.
Tak siap, bingung, ah sakit!

Kemana benar yang gamblang, belumpun selangkah kita bersama....


13 December 2011

Dua tahun lagi saya seperempat abad,,




Dua tahun lagi sudahlah saya hidup seperempat abad. Momentum perak, katanya. Dua tahun lagi pula jadi point pemberhentian sejenak, akan rutinitas-rutinitas yang panas dan memanas.
Mimpi-mimpi yang dirajut, sudah sejauh mana terwujud. Akan kah berakhir kejut, atau beralih syukur yang sujud. Dua tahun lagi, tidaklah lama nona. Rasakan saja nanti, baru saja dua tiga sekejap mata tiba-tiba sudah dua lima. Seperempat abad sudah hidupmu berlalu.
Mari kita hitung berhitung, dari tahun-tahun yang sudah kau lalu.
Dua tahun pertama kelahiranmu, belum lagi kau bisa apa-apa. Bicara saja baru “bu bi ba”.  Tak terpikir umat, belum terpikir berkat. Tidurmu, bahkan hampir sehari penuh di embat.

Lalu hadirlah tahun –tahunmu yang baru, langkah-langlah pertama yang mulai kau tuju. Ocehan-ocehan seru meluncur riang dari bibir manis nan mungilmu, mengujar-ujar mimpi, aku ingin begini dan aku ingin begitu, katamu. Sepuluh tahun pertama, hampir kau habiskan seperempat waktunya dengan terlena lelap empuknya kapuk, dan guling butut busuk apak. Kata ibumu, jam 9 malam waktunya lelap dan bangunlah kembali besok pagi, pukul 6.  Ya, lelap sudah 9 dari 24 jam untukmu sehari. Kemudian bermainlah engkau hingga tengah hari, jam 11 kau pun dipanggil ibumu kembali. Tidurlah siang sayang, ragamu pasti lelah disekolah. Dan kau pun rebah, jam 1 sampai jam 3. Berkurang lagilah 3 jam. 

Sudah! 10 tahun pertamamu habis sudah setengah hanya tuk rebah.
Sepuluh tahun berikut, semakin rapatlah waktumu kau ikat. Bagun pagi, sekolah, belajar, les ini itu, belajar, dan tidur lagi tuk kemudian bangun lagi besok pagi. Rutin. Masih! Belum lagi kau terpikir umat, belum lagi kau patri mimpi kuat-kuat. Kau hanya terpikir, ini yang ayah ibumu ingin kau perbuat. Ingin apa kelak kau menjadi? Baru terpikir, 5 tahun terakhir dari 10 tahun kedua ini. Kemudian ingin apa pulalah kau menjadi? Kembali lagi kau mulai mengujar mimpi-mimpi. Mulai belajar mengejar, tak hanya mengujar. Realita sudah mulai menguak kuak di depan mata. Bahwa hidupmu tak kan begini terus tuk selamanya, sehingga perubahan kan jadi niscaya.

Sekarang, menghitung 5 tahun mendekati seperempat abad. Lalu apa lagi yang masih akan kau perbuat. Pengejaran mimpi masih tresendat? Atau pengujaran mimpi yang terlalu hebat? Hingga realita hanya jadi pengias kebat, sekelebat. Mimpi mimpi dan mimpi.

Apa lagi yang ingin kau kejar? Mimpi? Atau khayal? Bedanya?
Seperempat abad yang mendekat, sekedar jadi pengingat. Mimpimu bukan khayal yang sekelebat. Tapi sebuah visi nyata, cita seorang pengukir sejarah yang akan mengukir namanya dalam kamus dunia bergandengan tangan bersama sepadan kata “Hebat, Manfaat dan Berkat”...! Sesungguhnya untuk itulah dirimu dibuat!!  

06 November 2011

Dua sisi mata pedang,


Ketika cinta telah ditangan lalu mengapa semua harap harus terbuang, dan terbang? Karena nyata belumlah terbilang, padahal kau telah gamblang bilang sayang...?

Aku tak pernah meragu cintamu, tak sekalipun. Yang kuragu hanya satuku padamu di suatu waktu, yang raguku wujud dalam suatu waktu jika kau masih tetap saja begitu. Atau kau pun tak mampu memutar waktu. Dan masih, aku diam membisu menenggak racun cemburu ku pada jarak dan waktu yang membelah duniaku dan duniamu.

Memilih mana yang lebih baik, aku atau (mungkin) janjimu yang kadung kau ukir dulu?

Dua sisi mata pedang menghujam. Antara cinta dan kebenaran yang nyata. Keduanya terhunus di depan dada, tak elak kan tetap meluka.

26 October 2011

Dan Okay!



Dan okay, sekarang aku tak tahu kan ke arah mana isi kepalaku ini kan tersorot hingga begitu kakulah ia kan menyirat kan seutas surat. Saat ku butuh sebuah dekapan erat, tak ada satupun rasa yang mendekat, bahkan dia yang katanya selalu ada saat ku butuh dia karena hati dan cinta tlah melekat. Ah! Apakah semua suar kasih atas nama “sahabat” semua hanya sekedar kelebat sesaat? Aku sendiri, menangis. Meringis sakit.

Ah tidak! Aku tidak akan mengeluh, karena sungguh kutahu tak adalah guna ku peras peluh hanya karena harap yang tak pernah sungguh-sungguh. Semu!
Pantas saja aku selalu ragu, dimana dirimu?

Aku memang tak pantas tuk protes, siapa aku? Saat mereka menyedot darahku karana kelemasan, aku mau. Bukankah aku mau? Lalu saat aku lemas kehabisan nafas, kemudian tak satupun dari mereka yang hadir tuk setidaknya tiupkan desah selepas, lalu apakah aku harus protes? Lalu apakah aku harus panas?

Biasa sajalah! Di dunia ini memang jauh lebih banyak manusia yang mau berkorban karna impas, 
bukan ikhlas. Tak usahlah mengeluh, berjalanlah sekalipun darah menetes deras, peluh mengalir lepas, nafas mengengus gegas, berjalanlah terus, sekalipun lemas dan akhirnya wujudmu kandas. Di ujung sana, hadirmu yang baru menanti dengan wujud yang lebih tegas, kuat dan pantas!