08 October 2011

All That I want is just the simple you....



Kau tahu, yang aku tunggu bukanlah dirimu yang begitu special, bukan lah dirimu yang istimewa. Yang aku tunggu hanya sesederhana dirimu saja. Tak lebih. Tak usahlah berbuat lebih.
Semakin banyak kau mengecewakan aku, tak kan buatku semakin sering menggerling arah padamu sayang. Malah aku kan makin berpaling. Kau tak ingin itu terjadi bukan, maka jadilah dirimu saja. Usaikanlah tindak laku mu yang buat tanya. Katakan semuanya pada dunia, nyatakan semua yang kau inginkan. Aku ada disini mendengarkan, sungguh. Jangan lagi kau buat hal menyakitkan, aku cemburu memang dan mungkin itu mampu buatmu senang. Tapi liatlah aku, aku punya hati. Aku takut hati ini kan terlalu kuat jika kau latih terus tuk menahan kuatnya cemburu, hati ini mati padamu. Hentikan.

I dont wanna the special you, I just want a simple you. Isn’t it so simple?

07 October 2011

#Pesan Kerinduan

#Pesan Kerinduan #15harimenulisdiblog

 Pesan-pesan kita beterbangan, rindu-rindu yang terikat angan, terangkut angin. Titipkan pesan itu pada langit yang mengelam, ujarmu. Sudah kulakukan, kutuliskan pesan-pesan kerinduan itu pada rasi-rasi bintang baru, nama dan wajahmu. Kukabarkan pada mentari, jangan lupakan hangat pelukan yang aku titipkan untukmu pada lembut sinar yang ia tebarkan, salam itu khusus untukmu, hanya untukmu.

Kita berbalas-balas pesan. Saling merindukan, saling mendambakan.
Pesan-pesan yang kita kirimkan berjatuhan serupa hujan. Membasahi pipi, gantikan ciuman-ciuman.  Pesan-pesan yang kita kirimkan berhembus-hembusan selayak angin. Mendekap bahu, gantikan pelukan. Pesan-pesan yang kita kirimkan beterbangan meneduhkan selaku langit. Menetap, menatap, mengusap, gantikan belaian yang dekap.

Belah dunia pisah, namun pesan-pesan rindu tak pernah putus dan musnah..... 

06 October 2011

#Telurdadar mini special "CICAK"




Karena tema kali ini adalah telur dadar, dan ini adalah postingan #15harimenulisblog ku yang pertama, maka kali ini pun aku akan bercerita tentang telur dadar pertama yang aku buat, dengan latar belakang “bocah kampung ingusan” tentunya. Jangan salah! Seeksotis-eksotisnya tampilan ku jaman dahulu kala  aku sudah bisa memasak sejak umur 5 tahun. Mungkin ini adalah salah satu keuntungan menjadi anak kampung, tertinggal dan dilepas bereksplorasi sebebas-bebasnya, yang salah satunya adalah tubuh sehat dan “eksotis” serta kamampuan mandiri yang diatas rata-rata anak kota. *ehem!* 

Lebih kurang 17 tahun kurang sehari yang lalu, aku tepat berulang tahun yang ke 5. Biasanya, anak kampung seperti ku jarang merayakan hari-hari momental selayak ini. Membuat kue, meniup lilin, balon-balon, hadiah, bla bla bla. Hanya ada beberapa anak di kampung yang mendapatkan perlakuan “istimewa” sedemikian oleh orang tuanya. Tapi di ulang tahunku kali ini, sedikit terasa special, karena akhirnya! Aku mendapatkan kado ulang tahun! Kado istimewa dari nenek ku tercinta. Seperangkat alat masak, dibayar tunai!

Bukan sembarang alat masak, karena alat masak ini semua adalah alat masak yang dapat dipergunakan secara nyata untuk memasak, hanya saja ukurannya mini, seukuran genggaman anak umur 5 tahun.  Alat masak ini terdiri dari sebuah kuali mini berdiameter 15 cm, sebuah panci alumunium bervolume lebih kurang 16π (enambelas phi) dan sebuah sodet berukuran sendok makan. Mana kompor? Katanya seperangkat alat masak? Hey, ibuku saja memasak pakai tungku! Jadi bilang saja, waktu itu kompor belum termasuk sebagai perangkat alat masak.

Sebagai anak kampung yang memiliki daya eksplorasi tinggi, termasuk dalam pemanfaatan pertama alat masak ini. Maka waktu itu aku berinisiatif membuat pesta kecil-kecilan bersama sahabat-sahabat kampung yang tak pernah kalah eksotik. Sore ini, aku putuskan bahwa permainan kami adalah masak-masak. Anak laki-laki di perlakukan bak suami, mengumpulkan kayu api dan menghidupkan tungku mini buatan sendiri dari batu-batu yang disusun rapih. Sementara anak perempuan, berlaku sebagai  para istri bertugas mengumpulkan bahan makanan dan memasak. Dan para “istri” memutuskan bahwa masakan kita kali ini adalah “Telur Dadar”. Dan tentu saja, bahan makanan yang akan kita cari adalah telur –mini-!  Jangan pikir kalau yang akan kita gunakan nanti adalah telur ayam kampung, yang sekalipun ukurannya cukup mini tak akan ada yang berani meminta, apalagi mengambil. Telur ayam kampung sudah jadi hak milik orang dewasa, bukan anak 5 tahunan seperti kami-kami.

Cukup tahu bahwa anak-anak kampung seperti kami adalah anak yang sangat terlatih untuk beradaptasi kerena kemampuan eksplorasi kami yang cukup tinggi. Telur yang dapat di gunakan untuk merealisasikan permainan ini tentunya tak hanya telur ayam. Telur burung susah di cari, telur ular? Jangan tanya lagi, apalagi telur kodok! Akhirnya saat rembuk, para “istri” akhirnya sepakat bahwa kita akan mencari bahan masakan yaitu telur, dan telur yang kami cari adalah telur “cicak”. Sebagian dari kami sudah sangat berpengalaman dalam mencari dan menemukan posisi telur cicak berada. Di balik dinding-dinding batu kering, dan atau di celah-celah rumah yang masih tebuat dari papan. Hingga akhirnya, para “istri” berhasil menemukan 8 butir telur cicak yang berarti masing-masing dari kami mendapat jatah 1 telur.

Setelah tungku siap dan bahan lengkap, tibalah tugas para istri untuk memasak dan menyiapkan makanan. Dua orang istri bertugas untuk mengatur meja makan, dan dua orang istri lainnya bertugas memasak. Aku tentunya kebagian memasak, tentu saja karena alat masak yang dipakai adalah alat masak ku. Dengan ahlinya aku memecahkan satu persatu telur cicak kedalam pecahan mangkok yang kami kumpulkan dari belakang rumah, ceplok ceplok ceplok ceplok ceplok plok! Ada satu telur cicak yang isinya bukan lagi seperti telur putih dan kuning, tapi sudah berupa cicak! Aku akhirnya berkata pada partner istri memasakku, “ini dapat jadi pengganti isi telur dadar! Dulu aku pernah liat ibu memasak telur dadar yang ada isinya!”. Partner istriku pun berbinar, setuju. Calon anak cicak malang itu pun akhirnya kami potong delapan, tragis. Dan sret sret, tadaaa! Jadilah masakan pertama ku “Telur dadar mini special cicak”.

Para suami yang sudah menanti di meja makan bersama dua istri lain yang sudah bersiap menata meja dengan sederat daun mangkok, dan selembar daun simpur lebar, menanti dengan senyum lebar. Telur dadar special kami, pun terhidang di atas meja. Siap santap!. Dan nampak lezat!.

Yah, begitulah masakan pertama yang kubuat. Terhidang nimat dan terlihat lezat!

~~~~Dan hey, jangan pikir kami cukup gila untuk memakan santapan eksentrik tersebut. Tentu saja, telur dadar mini special cicak itu tak pernah kami makan. Karena di belakang kami, para ibu beneran, sudah berdiri di bawah pohon rambutan.

25 September 2011

Penyesalan...

Penyesalan itu selalu datang di akhir, terlambat. seperti halnya sesuatu yang seharusanya sudah dilakukan atau seharusnya dilakukan ternyata tidak dilakukan, yang akhirnya malah menimbulkan sebuah penyesalan, itu sakit!

17 September 2011

Menuju Puncak.. :)


17 september 2011
15:15
Semakin besar dan lapang hati, sedemikian pula  besar dan berat beban yang kan mengisi ruang. Berhatilah...
Pernahkah merasa, semakin hari langkah semakin berat?
YA! Pastipun pernah. Hanya ada sebuah analogi yang mampu menjelaskan keletihan yang terjadi. Semua tahu perjalanan menuju puncak impian, kesuksesan, cita-cita, tak mungkinlah hanya menempuh jalur menurun dan lurus pun saja. Ada tikungan tajam, jalan berbatu, licin, gelap, silau, kemudian lurus kembali, kadang pula sesekali menemukan turunan, yang pada akhirnya akan menarik kita pada sebuah jalan yang bernuansa terjal, tajam, dan melelahkan. Tanjakan menuju puncak.
Pada akhirnya, tanjakan ini pula yang akan tertempuh. Seberat apapun perjalanan sebelumnya, diakhir perjalanan akan terasa lebih berat. Kenapa? Energi yang pada awalnya penuh, semakin akhir perjalanan akan semakin terkuras. Ditambah pula pola jalur yang semakin menanjak, yang menghabiskan separuh nafas, menguras keringat, menggetirkan kaki. Semua akan terasa lebih sulit. Benar.
Tapi tahukah? Semakin sulit tanjakan, berarti kita sedang menuju titik ketinggian yang baru, yang berarti puncak semakin dekat. Jangan pernah takut akan energi yang kan habis sebelum kau sampai dipuncak, ingatlah satu hal! Allah takkan pernah menguji hamba-Nya diluar kemampuannya. Ini berarti selemah-lemahnya dirimu, pasti pun kau sanggup mencapai puncakmu, karena Dia selalu tahu kadar dirimu. Janganlah pula lekas menyerah, ingatlah satu nasehat penting lagi, perbedaan antara seorang pecundang dan pemenang hanyalah sedikit kesabaran untuk bertahan.
Hanya itu, jangan pernah menyerah. Bertahanlah! Sedikit lagi, sedikit lagi. Dan puncakmu kan terpijak, sebelum kau pindah ke puncak-puncakmu yang baru.

10 September 2011

Ikhwan jadi-jadian (2).. (~~,)

Huft! okey, nambah lagi "omelan" manis saia mengenai nih para ikhwan jadi-jadian.

Karena nanti pada ujungnya tetap saja sang akhwat yang dipersalahkan, dibilang kege'eran, gak bisa jaga perasaan, kegwnitan, gak malu sama jilbab, dan sebagainya. Waw! separah itukah kamu hai akhwat?? tapi sejujurnya, saia tak mampu menyalahkan kalian para wanita yang sedang berusaha untuk menyempurnakan kemuslimahan diri, setidaknya kalian sudah mau mengorbankan pesona kecantikan kalian untuk tak di umbarkan. Lalu untuk hati? saya bersyukur kalian masih punya hati, berjilbab tak lantas membuat kalian berubah menjadi bukan lagi seorang manusia bukan?

Langsung saja lah ke pokok omelan saia. Kenapa ikhwan-ikhwan jadi-jadian ini masih banyak berkeliaran? Seenaknya saja mengumbar-umbar janji tuk halal kan ikatan, tahukah kalian kalau para akhwat ini telah berbagus pikiran dan perasaan bahwa kalian adalah ikhwan baik-baik yang benar-benar berusaha tuk menempuh jalan yang penuh keridhoan. Lalu mengapa dipermainkan?

dua kasus sudah saya tangani, ternyata kesalahan ada pada ikhwan yang gombal abis-abisan. kalau beneran ikhwan nih ya, harusnya tanpa pandang status jilbaber(akhwat)/ bukan pun kalian harus tetap jaga laku dan perkataan. ternyata ikhwan-ikhwan sekarang udah amat sangat jago merangkai ucapan!

ckckck kalau saja aku serupa ibu malin kundang, sudah kukutuk ikhwan-ikhwan jenis kalian jadi batu cadas, yang terhempas-hempas yang akhirnya kandas!!!

06 September 2011

Ikhwan jadi-jadian (1).. (~~,)


Hey ikhwan!
Kalian tahu bukan, para akhwat itu berhijab tuk hindarkan diri dari pandangan-pandangan kaum kalian. Agar kalian mudah tuk jaga pandangan. Biar kalian tahan kan setidaknya sedikit cobaan. Tapi toh, ternyata eh ternyata, tak sedikit dari kalian yang masih tetap pura-pura hilang ingatan. seakan lupa kewajiban tuk menjaga pandangan.


Huft! jelas saja aku kehilangan penghargaan pada mahluk-mahluk macam kalian. yah, meskipun tak semua dari bagian kalian yang berlaku demikian. Masih banyak yang berlaku sesuai tuntunan dan aturan. ya, setidaknya aku tak kehilangan harapan.


Kau tahu, wan. ada yang aneh! Justru para pria slenge'an yang jenggotan bukan karena sunnah sang pangeran (Red : Rasulullah), justru malah mampu memberikan penghargaan lebih tinggi atas hijab dalam batas pergaulan di bandingkan dengan kalian yang ngakunya ikhwan. Kami, yang terhijab jilbab teranggap barang suci yang sulit tergapai, jangan kan tuk disentuh, dilihat pun sungkan.


Lalu apa yang salah, wahai kau yang katanya ikhwan? yang katanya paham Alqur'an?


Mengapa hijab kami malah jadi perhatian kalian, hai yang katanya pecinta Kalimat Tuhan..?
Atau itu semua hanya kiasan, sebagai kedok pandanganagar teraku sebagai orang beriman?
kalian bangga dengan predikat "ikhwan"?


Dari hati terdalam, saya kecewa kepada jenis-jenis ikhwan seperti kalian. Yang masih saja melihat wanita dari sisi kecantikan, bukan keshalihan, padahal jelas anugrah itu bukan hak kalian tuk dipandang berlamaan sekalipun memanglah tak haram tuk ditampakkan. Jika sudah seperti ini, akhwat pula yang dipersalahkan. Jangan pamer-pamerkan perhiasan, jangan tunjuk-tunjukan kecantikan. Mata dan hati ku bisa jadi tak tahan, kata kalian.


Hey, wan!! bukankah kami sudah berhijab? lalu mengapa pula kau masih saja tak jaga pandangan? sok-sok perhatian...??? ikhwan jadi-jadian....! (~~,)

Saling bernasehatlah.. ^^


Saling bernasehatlah dalam kebaikan, sekalipun belum sempurna dalam amalan.. Nasehatmu adalah investasimu, saat kau goyah nasehatmu dahululah yang kan memecut langkah.. Kembali ke arah dimana dirimu berlaku, :)

Apalah ruginya saling nasehat menasehati, bagi yang dinasehati tak adalah rugi, bukankah menjadi lebih baik itu serupa anugrah?. Bagi yang dinasehati tak pula ada rugi, sedayung dua tiga pulau terlampaui. Amal, dan investasi.
Pernahkah terjadi (*halah) suatu waktu, kau menasehati dan berbual-bual tinggi tentang mimpi sobat? Kemudian sekian waktu berlalu, ternyata kau telah berlaku sedikit menyerong dari apa yang kau ucap dulu. Lalu kemudian, tiba-tiba dia yang dahulu telah kau nasehati datang, dan menasehatimu balik, tuk kemudian menyegarkan kembali ingatanmu dan memecutmu kembali ke jalan di mana kau seharusnya berlaku. Tidak kah itu sebuah keuntungan? Investasi bukan?
Tak pernah ada kerugian dalam nasehat menasehati, jauhkan alasan dimana kau ketakutan bahwa ucap tak sejalan dengan amalan. Toh dalam niatan, kau tak pernah berkeinginan tuk mangkir dari perbuatan bukan? Sedikit menyerong hanyalah buah dari kekhilafan, bentuk kemanusiaan yang penuh kelemahan dan kealpaan.
Yah!  Mereka yang saling nasehat menasehati tak kan pernah merugi.. I guarantee.. ;)

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 (إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3  (1) وَالْعَصْر ِ
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)


25 August 2011

ni lagu kayaknya saia banget,, o_O



ku merasa saat kau datang kembali
mesti aku mencoba bertahan dan hindari
oh mengapa kau datang mengganggu lagi
di saat kau tak mungkin berada di sisiku

ku sadari meski bintang bersinar di langit indah
aku tak akan mampu menggapai sinarnya
dirimu kan selalu di sana dengannya
takkan berubah meski cintaku kamu

oh mengapa kau datang mengganggu lagi
di saat kau tak mungkin berada di sisiku


takkan berubah meski cintaku kamu

Debat tak kusir.. Ah, pantas saja kita sering berdebat...


Seringkali kita berdebat, bersikukuh akan hal yang tak paham. Urat leher menerik, frekuensi trakea meninggi. Ya! kita sedang tak sepaham, dan terus berdebat. Tahukah kau mengapa kita berdebat? Jawabanmu benar, kita tak sepaham. Saling beradu paham dan kepahamaan, masing-masing.

Tahukah kau mengapa kita berdebat? 
Ini bukan pertanyaan mengulang, sehingga jawabmu tak perlu kau tulis ulang. Jawabmu sudahlah tepat.Aku hanya mereview sekelebat.
Seringkali kita berdebat, sangat hebat. Tak temu simpul satukan pendapat. Debat sekedar debat,menyepakati bahwa kita sedanglah lagi tak sepakat. Dan merelakan hati tuk biarkannya di tempat.
Namun kadang aku hanya ingin melirik ke belakang goresan-goresan debat kita yang panjang. Pantas saja kita berdebat, panjang tak liat tempat, kukuh akan masing-masing pendapat. Kita memang tak sepaham,tak mau samakan frekuensi, apa lagi definisi, tak pula mau samakan sudut pandang.
Aku melihat dari sudut langit, kau pandang dari tepian sungai. Satu kata, beda makna. Pantaslah seringkali kita berdebat. Terdebat sekian lama tanpa landasan sama akan makna sebuah definisi.
Ah semoga saja bisa jadi lembaran-lembaran Introspeksi.. :)



23 August 2011

Mundur?




Tak mengerti apa yang harus kan diatur. Mungkin aku memang harus mundur. Bahkan jawabanmu pun tak lagi terukur. Bukankah hati ini begitu luka? Lalu mengapa senyuman masih setia menghias rupa . bukankah harusnya kau bersuka cita rayakan cinta? Lalu mengapa harus ada tetesan airmata.
Aku bodoh, yah kali ini ku akui aku begitu bodoh. Entah mengapa ini adalah kebodohan yang paling aku suka.  Kebodohan yang paling aku suka. Tetap bodoh menunggumu, padahal tak pernah pasti iyakah arahmu padaku? Tetap bodoh mempercayaimu, padahal kalimatmu hanya sekedar rayu. Tetap bodoh mengagumimu, padahal belati beracunmu kerap kali menyayat hatiku dengan atau kau tahu. Tetap bodoh menginginkanmu, padahal kutahu kau belum lah jadi hak ku. Tetap bodoh berlaku manja, mudah cemburu di hadapanmu, padahal sejatinya aku tidaklah seperti itu. Tetap bodoh terpengaruh semua berita tentangmu, apapun itu sungguh jantungku berdebar keras setelah itu. Tetap bodoh mencintaimu, padahal kutahu mungkin itu terlarang bagiku lagipula tak kutahu rasamu.
Entah bagaimana yakinku, kala mentari  lelah bersinar dunia masih kan tetap benderang. Karena cahaya paling cemerlang tersimpan di hatimu. Kasih, kau selalu tahu. Tatap ini, tangan ini, hati ini, telah terikat serapat jilbab membebat erat aurat, semua untukmu, halalku. Mungkin gelap adalah sahabat paling rapat untuk merasai rindumu dalam dekap yang paling erat.

16 August 2011

Mumpung masih gadis, manfaatkan ramadhan kali ini !!!


Entah sejak kapan terpikirkan bahwa saat ini adalah saat-saat dimana saya benar-benar harus bersyukur.  Tanpa mengesampingkan apa lagi menyurutkan keinginan menjadi pengikut Rasulullah secara utuh dengan menggenapkan setengah dien, alias menikah. Hanya saja, dalam kondisi ramadhan kali ini saya benar-benar berfikir bahwa ada banyak hal yang harus saya syukuri dan tak boleh sama sekali lengah, karena bisa jadi ini adalah tahun-tahun terakhir dimana saya akan melaksanakan ramadhan secara mandiri sendiri, belum terikat kewajiban lain jika nanti telah terikat status “istri”. Tentu saja ada banyak keutamaan dalam menikah, dan saya pun tak ingin ketinggalan keutamaan-keutamaan tersebut.  Tapi ketika memasuki bulan ramadhan rasanyaaaa,,hmmm sangat ingin lebih banyak berkhalwat dengan Allah. itu saja. Dapatkah waktu-waktu istimewa seperti ini tercapai kala memasuki medan jihad yang baru?  Nah! Inilah yang sedang saya persiapkan, salah satu factor kuat mengapakah saya tak ingin terlewatkan ramadhan kali ini mumpung masih gadis. Sampai-sampai bela-belain nambah-nambahin factor biar “dapet” nya jadi telat, dan alhasil dapat melaksanakan shaum wajib ramadhan full 30 hari.


Okelah mari di list kenapa eh kenapa si saya malah merasa kalau nanti setelah menikah kenikmatan ramadhan kala status sedang perawan berbeda dengan kenikmatan ramadhan kala status telah berkawan, alias jadi istri orang. 

Pertama-tama saya pengen ngelist daftar golongan-golongan yang mendapatkan keringanan puasa (atau boleh untuk tidak berpuasa dengan syarat).  

·         Yang pertama adalah, Orang sakit yang tidak memungkinkan untuk menjalankan puasa diperbolehkan untuk tidak berpuasa dengan syarat qodha atau fidyah.       Yang kedua, adalah orang yang sedang berada dalam perjalanan (musafir) memiliki keringanan untuk tidak berpuasa dengan syarat mengganti  hari bolong puasa (qadha).   Yang ketiga adalah uzur dengan syarat membayar fidyah (*jika mampu).    Sedangkan yang keempat adalah Ibu hamil dan menyusui, yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa dengan syarat menggati puasa dan atau membayar fidyah jika memiliki keraguan diantara keduanya.

Nah mari kita fokuskan kearah kewanitaannya, alias keringanan bagi wanita untuk tidak berpuasa ketika hamil dan menyusui. Dan dalam selingan mari kita berhitung! J . Dari beberapa sumber yang dibaca, salah satunya yang cukup representative untuk membahas tentang keringanan berpuasa bagi wanita hamil dan menyusui ada pada page : http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html . 

Disimpulkan bahwa seorang wanita yang menyusui dan hamil diperbolehkan untuk tidak berpuasa, mereka cukup mengqodho’ tanpa menunaikan fidyah karena kuatnya dalil yang disampaikan oleh ulama yang berpegang dengan pendapat ini. Kondisi ini berlaku bagi keadaan wanita hamil dan menyusui yang masih mampu menunaikan qodho’. Dalam kondisi ini dia dianggap seperti orang sakit yang diharuskan untuk mengqodho’ di hari lain ketika ia tidak berpuasa. Namun apabila mereka tidak mampu untukk mengqodho’ puasa, karena setelah hamil atau menyusui dalam keadaan lemah dan tidak kuat lagi, maka kondisi mereka dianggap seperti orang sakit yang tidak kunjung sembuhnya. Pada kondisi ini, ia bisa pindah pada penggantinya yaitu menunaikan fidyah, dengan cara memberi makan pada satu orang miskin setiap harinya.

Catatan penting yang perlu diperhatikan bahwa wanita hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa jika memang ia merasa kepayahan, kesulitan, takut membahayakan dirinya atau anaknya. Al Jashshosh rahimahullah mengatakan, “Jika wanita hamil dan menyusui berpuasa, lalu dapat membahayakan diri, anak atau keduanya, maka pada kondisi ini lebih baik bagi keduanya untuk tidak berpuasa dan terlarang bagi keduanya untuk berpuasa. Akan tetapi, jika tidak membawa dampak bahaya apa-apa pada diri dan anak, maka lebih baik ia berpuasa, dan pada kondisi ini tidak boleh ia tidak berpuasa.



Dan sekarang mari kita hitung-hitungan! 

Ketika seorang wanita menikah pada umur 25 tahun.  Kemudian wanita tersebut dilimpahkan rezeki oleh Allah dengan mengandung seorang atau lebih anak, maka pada bulan ramadhan nya di usianya yang ke 26 tahun terdapat dua kondisi yang memperbolehkannya untuk tidak berpuasa dengan syarat menyusui dan atau dalam keadaan nifas  (dalam arti ada kondisi yang harus diantisipasi untuk tidak berpuasa di bulan ramadhan). Kemudian, pada tahun berikutnya hingga dua tahun ke depan wanita tersebut tetap mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa karena menyusui. Nah! Itu jika baru memiliki 1 anak, bagai mana jika wanita tersebut dikaruniai Allah anak yang banyak? Otomatis pengulangan-pengulangan rukhsoh tersebut akan terjadi. 

Untuk menqadha puasa sendiri, sering kali akan sulit terlaksana karena dalam usia menyusui seorang anak biasanya minimal sampai 2 tahun. Dalam artikata, selama dua tahun tersebut sang wanita memiliki “kesulitan” pula untuk mengqadha’ puasanya. 

Kemudian ketika masa-masa melahirkan telah berakhir, missal dalam hitungan umur 32 tahun seorang wanita sudah sulit untuk kembali hamil. Maka kesibukan yang terjadi tidaklah berkurang, malah semakin bertambah. Ok, jika misalnya sang wanita sudah tidak termasuk golongan yang mendapatkan keringanan untuk berpuasa, tetapi kesibukannya dalam rumah tangga akan sangat menyita waktunya untuk lebih banyak berkhalwat dengan Allah (meskipun dalam arti lain ini pun adalah ibadah dan jihad bagi seorang ibu, tapi tetap saja memiliki suasana yang berbeda). 

Lalu kemudian ketika kesibukan rumah tangga sudah mulai menurun, dikarenakan anak-anak sudah mampu mandiri. Sang wanita sudah memasuki masa menopose, uzur dan sakit-sakitan yang otomatis membuatnya menjadi kandidat golongan orang-orang yang mendapatkan keringanan dalam berpuasa.

Nah tuh kan! Nyerocos kayak ginian udah makan kertas dua lembar…

Lanjut yah, soalnya belum terlalu menyentuh ke pokok kejanggalan hati saya. Islam itu mudah dan memudahkan, seperti dalam ayat Allah “Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. 2:185), olh karenanya itulah banyak kemudahan yang justru didapat ketika kita beribadah kepada Allah. Tapi justru karena inilah saya merasa bahwa, saat-saat saya masih menjadi seorang gadis lah, adalah saat-saat dimana saya merasa sangat dekat dengan Allah secara personal, belum lagi secara social karena ketika telah memiliki title seorang “istri” otomatis saya akan memiliki banyak embel-embel di belakang, suami, anak, dll.

Makanya karena saya belum menikah kala ramadhan kali inilah saya bersyukur sesyukur-syukurnya. Sebelum menapaki masa dimana saya harus lebih banyak mengelola jiwa, sekarang saya masih memiliki waktu untuk lebih banyak bermanja kepada Allah, tanpa harus memikirkan hal-hal sekunder yang sebenarnya primer (ah baca : suami atau anak). Bukannya pula tak mungkin tuk beribadah ketika telah menikah, kita semua tahu bahwa dengan menikah banyak hal yang sebelumnya haram justru malah jadi berkah dan ibadah, maka tak patut pula jika tak disyukuri. 

Tapi sungguh! Saya malah sangat bersyukur ketika saya sedang berada dalam kondisi sekarang, dimana amalan harian yang ditargetkan begitu tinggi ternyata mampu tercapai dalam hitungan hari. Coba kalo sudah jadi istri, apakah tilawah harian dua atau tiga juz mampu tercapai dengan mudah? Jawabannya sangat sulit, ini pun menurut salah seorang senior saya yang dulunya adalah seorang aktifis dakwah yang mengatakan bahwa ketika memiliki suami dan anak maka waktu kita akan lebih banyak tersita untuk mereka (saya sangat tidak meremehkan tugas seorang istri, makanya saya sangat salut dengan seorang istri yang mampu menjaga amalan yauminya masih diatas targetan standar).

Dan satu lagi, out of the topic sihh…hahha salah satu alas an kenapa saya bersyukur ramadhan kali ini saya masih belum memiliki suami dan anak adalah…. Tidak adanya kewajiban menyediakan makanan sahur!!! Hehe jadi klo mau sahur ya seenaknya perut aja. :p

Anyway, apapun masanya.. ladang dakwah dan amal itu tersebar luas. Ketika masih belum ataupun telah memiliki suami, maka titik-titik ibadah akan berubah dengan sendirinya dan terganti pula dengan sendirinya. Tak ketakutan kehilangan ladang amal, hanya ingin menikmati suasana seperti ini lebih dalam lagi. Mumpung belum ada kondisi yang mengubah nuansa ibadah ramadhan nanti. Hu huh u… lagipula, dengan seperti ini saya jadi benar-benar sadar untuk mempersiapkan fisik dan mental tuk memasuki ramadhan dengan status seorang istri.
Wallahu’alam bishowab.. ^^



14 August 2011

Dilara (06 : 06)

Kau adalah mimpi yang terluka dari semu pipi yang membiru,

Denting debaran seru suara do'a-do'a yang menyala,


Takkankah kuasa tadahan jemari mengurai hari,


Larik dzikir kian memberat, dalih lalahan rindu berderat-derat..

Seorang Yang Menyimpan Kisahnya Sendiri

By : Nanang Suryadi
Ada yang menyimpan kisahnya sendiri..
Di derai daun-daun jatuh..
Sebuah taman kota..
Dingin angin memagut..
Gerimis menyapa..
Sesorot mata yang jauh..
Ke silam yang riuh..
Di dada sendiri..
Di ingatan sendiri..

Tapi mata adalah jendela..
Kutemu engkau menangis..
Sendiri.
Di sudut lampau..
Mengekal bayang.. Mengekal ingatan.

Di baris sajak. Segores luka menyimpan jejak. Dirimu.

Dilara (21:21)

Kemana rembulan? Dalam dekapan siapa ia disembunyikan..
Sementara bintang berkedip perlahan, di kejauhan mengusap jejak-jejak hujan..
Kemudian di balik persemayaman, ku gelar lapak pelafalan..
Pemahaman polos insan kerapuhan beban, kasian..

Luas pandang merentang, merintang jelang peradaban nun jauh trpandang.
Tergores badan takdir, teroles luluran sindir... Nampak galau tak segera akhir...

Tersudut pula sepetak debaran yang suar menanti getar tak hendak gegar, berlatih bingar tuk sauhkan debar debar dalam dengar hati yang trpendar..

Apa yang harus terendap? Kenang yang lindap atau sayang yang pengap, hanya agar rindu mu tak layak lenyap..
Aduhai cemburu aku pada angin, dia memelukmu lebih sering dari apa yang aku ingin..

Dilara (18:18)

Gelap bergelagap di dekap yang pengap,
berbaur ribu kehangatan berbaur ribu kebimbangan..
Adakah surut yang temu kemelut.. Meraih bintang, terlupa rembulan... Selalu warna tak lengkap, siapa tersalah? kuas, tangan, mata, atau warna yang selesa...

Lagi, sedekap-sedekap lenyap...
Pun, senyum-senyum berdentum..
Kali, malam-malam terbenam...

Menabik fajar yang tersungkur dalam do'a-do'a yang bingar, Do'a yang tersangsi kan di dengar..
Oleh para lisan yang berniat pun tak hendak tuk iktibar...
Senyap sendirinya melenyap, pengap sendiri nya mengusap....
di baur hati yang melebur pati yang anti, mungkin mati suri... sebentar lagi...

31 July 2011

meninggalkan kenangan,,

Ada serpih-serpih yang menelisik luka. Berbaur bersama ingatan, berlarian bersama kenangan yang tak kan hilang dalam sekejap kedipan, atau sekedip hembusan.

27 June 2011

mendulangi hikmah

Ada hikmah yang tak selalu terejawantah,, kita yang harus memungutnya dalam bebagai rupa yang begitu pun rupa... berguling, beringsut pekat, memanjat, dan sebagainya pun terlalu sebagai laku yang berniat mengusut hikmat...


kesakitan mungkin tak berarti dibanding nilai yang berlaku,
nilai yang menjadi hak nya mereka yang berhak "para pendulang hikmah"


sekian kali merasa dalam berbagai episode hidup yang berlaku, pun timbul pula nganga luka yang terbaru..
ah! mungkin luka yang menganga itu adalah liang yang tersiapkan, dimana sauran hikmah itu harus terkubur dalam, meresap dalam hati menjadi zat inti yang akan membentuk rupa hati yang baru..

Sedikit Luka,,

Boleh kah aku berkeluh kesah? Bercerita sekedar tuk menebar hikmah..? Atau ah jangan-jangan nanti malah ada yang menyangka aku malah mengumbar aib orang lain. Aib siapa..? toh yang baca pun tak tahu siapa rupa objek dalam cerita... Boleh kah aku mencurahkan hati..? Menuangkan segala luka dan sedih dalam dada? Atau ah jangan-jangan nanti malah ada yang bilang aku "ember bocor" yang tak tahan mengumbar cerita, cari perhatian dan sebagainya..


Lalu apakah luka yang kurasa masih harus tepat menganga..? membiarkan ini menjadi nikmat "pahit" yang harus kutelan sendiri tanpa sadar aku pun punya hak tuk mencari solusi bukan malah berdiam diri..?
Lagipula toh aku sudah bercerita...
Apa seganmu hingga kau takut segala yang kau laku terkuak media..? sekalipun hanya media maya..? *hey ya, sudahlah! aku sedang berbicara dengan siapa?*

17 March 2011

Mario teguh 1 (Indahkan jiwamu)

Adikku yang merindukan belahan jiwamu,
Kualitas yang terpenting bukan pada orang yang kau harapkan menjadi belahan jiwa, tapi padamu yang akan jatuh cinta kepadanya.
Jika engkau tidak membeningkan hati, menjernihkan pikiran, dan tidak mengindahkan perilakumu; engkau akan mudah jatuh cinta kepada pribadi yang akan mengecewakanmu.
Belahan jiwamu hanya seindah jiwamu.


Mario Teguh

MTSuperSMS.com | Indahkanlah Jiwamu