Showing posts with label Inspiring Story... Show all posts
Showing posts with label Inspiring Story... Show all posts

05 September 2010

Mengingat Allah dengan yakin …


“Ingatlah Allah agar hatimu tenang…” arti mendalam kalimat tersebut begitu solutif.  Maka ingatlah Allah, niscaya hatimu akan tenang. 
Akan tetapi, akhir-akhir ini entahlah ini hanya sekedar kekhawatiran atau ketidaknyamanan hati yang secara sengaja, ataupun tidak sengaja hadir di sisi hati..beberapa kali saya mendengar kalimat tasbih meluncur dari lisan seseorang yang cukup dekat -secara nasab- dengan saya.  Saya, yang bukannya bertambah ketenangan serta kegembiraan akan kalimat suci yang semakin sering dilafadzkan di rumah malah semakin bertambah tidak nyaman hati saya ketika mendengarkan pelafalan “Allahuakbar, Ya Allah..!!”, meluncur lancarr dari lisan ybs. –yang (Astagfirullah..) terdengar seperti yang menyalahkan Allah-. Nada suara yang terdengar seperti memelas,  marah dan takut dilafalkan secara berulang-ulang. Dengan nada yang sama. –sekali lagi, saya tidak mendapatkan nada suara kesyukuran di balik kalimat tasbih yang di ucapkan..dan ini membuat saya begitu sedih..-.
Saya sudah berada di sini sekitar 1 bulan lebih, dan semenjak awal itu pulalah saya terus mendengar kalimat pujian terhadap Ilahi didengungkan dengan nada yang sama. Dari awal, yang saya tangkap dari ucapan suci tersebut bukanlah sebuah bentuk pemasrahan diri, sepintas dan begitu terasa berat di telinga adalah sebuah keluhan akan takdir yang dituliskan Allah kepadanya. Astagfirullah Ya Allah.. hamba berlindung dari segala bentuk kekerasan hati dan ujub yang menodai ikhlas diri..
Lalu, apa yang membuat saya begitu berat mendengar kalimat suci itu dilafalkan dengan nada yang sedemikian?, tak lain hanya karena dalam pelafalan itu tidak tersirat keyakinan akan kuasaNya. Semua hanya bersifat keluhan, dan ketakutan tanpa disertasi dengan keyakinan.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim : 14)

Allah akan memberikan setiap mahluk ujian bagi mereka masing-masing. Yah,,!! Masing-masing, karena Allah tahu, masing-masing dari kita memiliki kemampuan untuk menyelesaikan ujian yang diberikan secara spesifik sesuai dengan batas kemampuan yang kita miliki. 
Maka, dengan kata lain SETIAP MAHLUK ITU BERMASALAH, yang jadi persoalan adalah proses dan hasil yang akan kita dapatkan dalam melalui ujian. Ingatlah, Allah memberikan ujian bagi setiap mahlukNya untuk mengetahui siapa yang paling beriman diantaranya.
Ujian diberikan agar kita mampu menjadi hamba lebih beriman, dengan itu kita akan bertranformasi menjadi hamba yang tangguh menghadapi godaan duniawi. Bukannya bertambah takut akan ancaman duniawi. Agar kita menjadi kuat, karena bertambah kuatnya keyakinan bahwa Allah selalu menolong hambaNya yang yakin akan kuasaNya.  Pun ketika sang hati sedang dalam suasana tidak senyaman biasanya, maka Ingatlah Allah! Berdzikirlah…!! Dengan penuh keyakinan, bahwa pertolonganNya akan selalu datang…
Akhir cerita dalam ruang introspeksi, saya rekatkan satu kalimat bahwa “Ekspresi Kepasrahan diri seorang hamba, berbeda jauh dengan KELUHAN seorang hamba, pun begitu dengan hasil yang akan didapatkan… jadi mau tak mau, BEDAKAN…!!”

01 September 2010

Be tough,,Akhwat..!! ^_^

Sebuah renungan,,

Jadilah akhwat yg kuat dlm memegang amanah dakwah!!!
Janganlah bersedih & jangan takut karena Allah selalu bersama kita…^_^
So,,akhwat itu jangan cengeng donk…
harus selalu semangat..semangat..semangat karena Allah!!!




*masih ada yang inget syair "menampar" yang satu ini,,kawan??






Jadi Akhwat jangan cengeng..
Dikasih amanah malah melarikan diri..
Diajak pengajian bilang ada ijin syar’i..
‘Afwan ane ada agenda syar’i..
Afwan lagi nguleg sambel trasi..
Disuruh ikut aksi, malah pergi naik taksi..
Sambil lambai-lambai, bilang dadaaah…yuk mari…..
Terus dakwah gimana? Diakhiri???

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Sekilas gayanya sih haroki berlagak Izzis..
Tapi hati kok Seismic? Sungguh ironis…
Mendayu-dayu kaya’ film romantis..
Kesehariannya malah jadi narsis..
Jauh dari kamera jadi dikira ge eksis..
Hati-hati kalo ditolak, bikin dramatis..

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Dikit-dikit SMS ikhwan dengan alasan dapet gratisan
Rencana awal cuma kasih info kajian
Lama-lama nanya kabar harian..
wah, investigasi beneran!
Bisa-bisa dikira pacaran!
Sampai kepikiran dijadikan pasangan…
Ga’ usah ngaco-ngaco gitu deh kawan!

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Abis nonton film palestina semangat empat lima..
Eh pas disuruh jadi coach, pergi lenyap kemana??
Semangat jadi pendukung luar biasa..
Tapi nggak siap jadi yang pelakunya..
yang diartikan sama dengan nelangsa..
Yah…bikin kecewa…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Sedekah dikira buang duit. .
Katanya sih biar ngirit, tapi kok shopping tiap menit??
Langsung sengit kalo dibilang pelit…
Mendingan buat dzikir komat-kamit…
Malah keluar kata-kata nyelekit…
Aduh…bikin hati sodaranya sakit…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Ilmu cuma sedikit ajah..
Udah mengatai Ustadzah..
Nyadar diri woi lu tuh cuma kelas bawah..
Baca qur’an tajwid masih salah-salah..
Lho kok udah berani nuduh ustadzah..
Semoga tuh cepet-cepet dikasih hidayah…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Status facebook tiap menit beda..
Isinya tentang curahan hatinya..
Nunjukkin diri kalau lagi sengsara..
Minta komen buat dikuatin biar ga’ nambah nelangsa..
Duh duh.. status kok bikin putus asa..
Dikemanakan materi yang dikasih ustadzah baru saja?

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Diajakain pengajian n kajian islami alasannya segunung…
Kalo disuruh shopping tancap gas langsung…
Hatipun tetap cerah walaupun mendung
Maklum banyak ikhwan sliweran yang bikin berdetak cepat nih jantung..
Kalo pas tilawah malah terkatung-katung…
Duh.. bingung…bingung…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Bangga disebut akhwat.. hati jadi wah..
Tapi jarang banget yang namanya tilawah..
Yang ada sering gosip ngomongin sesamalah…
Wah… wah… ghibah… ghibah…
Eh, malah timbul fitnah…
Segera ber-istighfar lah…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Dulunya di dakwah banyak amanah..
Sekarang katanya berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah..
Tapi entah kenapa berdiamnya jadi hilang arah..
Akhinya timbul perasaan sudah pernah berdakwah..
Merasa lebih senior dan lebih mengerti tentang dakwah..
Anak baru dipandang dengan mata sebelah..
Akhirnya diam dalam singgasana kenangan dakwah..
Dari situ bilang.. Dadaaahhh..
Saya dulu lebih berat dalam dakwah..
Lanjutin perjuangan saya yah…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Nggak punya duit pengajian males datang..
Nggak ada motor yaa…
misi pengajian dibuang…
Ustadzah ikhlas, hati malah senang…
Temen pengajian juga nggak ada satupun yang mau datang..
Jenguk temen yg sakit malah pada pergi malang melintang…
Oh…kasiyan… Mau ngapain sekarang???

Oh noo…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…

Ukhti… banyak sekali sebenarnya masalah Akhwat..
Dimanapun pergerakannya.. .

Ukhti.. Di saat engkau tak mengambil bagian dari dakwah ini..Maka akan makin banyak Akhwat lain yang selalu menangis di saat mereka mengendarai motor.. Ia berani menangis karena wajahnya tertutup helm… Ia menangis karena tak kuat menahan beban amanah dakwah..
Ukhti.. Di saat engkau kecewa oleh orang yang dulunya engkau percaya.. Akhwat-akhwat lain sebenarnya lebih kecewa dari mu.. mereka menahan dua kekecewaan.. kecewa karena orang yang mereka percaya.. dan kecewa karena tidak diperhatikan lagi olehmu.. tapi mereka tetap bertahan.. menahan dua kekecewaan.. . karena mereka sadar.. kekecewaan adalah hal yang manusiawi.. tapi dakwah harus selalu terukir dalam hati..

Ukhti.. disaat engkau menjauh dari amanah.. dengan berbagai alasan.. sebenarnya, banyak akhwat di luar sana yang alasannya lebih kuat dan masuk akal berkali-kali lipat dari mu.. tapi mereka sadar akan tujuan hidup.. mereka memang punya alasan.. tapi mereka tidak beralasan dalam jalan dakwah.. untuk Allah.. demi Allah.. mereka.. di saat lelah yang sangat.. masih menyempatkan diri untuk bangun dari tidurnya untuk tahajjud.. bukan untuk meminta sesuatu.. tapi mereka menangis.. curhat ke Allah.. berharap Allah meringankan amanah mereka.. mengisi perut mereka yang sering kosong karena uang habis untuk membiayai dakwah…

Ukhti.. Sungguh.. dakwah ini jalan yang berat.. jalan yang terjal.. Rasul berdakwah hingga giginya patah.. dilempari batu.. dilempari kotoran.. diteror.. ancaman pembunuhan.. … dakwah ini berat ukhti.. dakwah ini bukan sebatas teori.. tapi pengalaman dan pengamalan.. . tak ada kata-kata ‘Jadilah..!’ maka hal itu akan terjadi.. yang ada ‘jadilah!’ lalu kau bergerak untuk menjadikannya. . maka hal itu akan terjadi.. itulah dakwah… ilmu yang kau jadikan ia menjadi…

Ukhti.. jika saudaramu selalu menangis tiap hari..Bolehkah mereka meminta sedikit bantuanmu..? meminjam bahumu..? berkumpul dan berjuang bersama-sama. ..?Agar mereka dapat menyimpan beberapa butir tangisnya.. untuk berterima kasih padamu..Juga untuk tangis haru saat mereka bermunajat kepada Allah dalam sepertiga malamnya..

“Yaa Allah.. Terimakasih sudah memberi saudara seperjuangan kepadaku.. demi tegaknya Perintah dan laranganMu.. . Kuatkanlah ikatan kami…”
 “Yaa Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu.”
“Yaa Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar.”
“Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu.”
“Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Yaa Allah, kabulkanlah. Yaa Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka.”
Aamiin….




(Walau hasil copas,,mudah2an bermanfaat!!! ;-D

Silahkan terjebak Pertanyaan "Sudah berapa juz tilawah nya..???"



Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Menyukuri." (QS. Fathir: 29-30)



Ada dua cara seseorang di dalam membaca kitab Allah. Pertama, tilawah hukmiyyah, yaitu membenarkan segala berita yang ada di dalamnya dan menerapkan hukum-hukumnya dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, tilawah lafhzhiyyah atau qira'atul Qur'an, banyak sekali nash-nash yang menyebut keutamaannya. Dalam Shahih Bukhari, disebutkan riwayat dari Utsman bin Affan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya."



Dalam Shahihain, disebutkan pula hadits dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang yang mahir membaca Al-Qur'an kelak (mendapat tempat disurga) bersama para utusan yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur'an dan masih terbata-bata, dan merasa berat dan susah, maka dia mendapatkan dua pahala."



Dua pahala ini, salah satunya merupakan balasan dari membaca Al-Qur'an itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah atas kesusahan dan keberatan yang dirasakan oleh pembacanya.Dalam Shahih Muslim disebutkan riwayat dari Abu Umamah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Bacalah Al-Qur'an, karena pada hari Kiamat nanti dia akan datang sebagai pemberi syafa'at kepada orang yang membacanya."



Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia mendapatkan satu kebaikan, sedangkan kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf." (HR. At-Tirmidzi)



Keutamaan-keutamaan ini meliputi seluruh kandungan isi Al-Qur'an. Banyak hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menyebutkan keutamaan surat-surat tertentu, misalnya surat Al-Fatihah. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Sa'id bin Mu'alla bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berkata kepadanya, "Aku akan mengajarkanmu surat yang paling agung di dalam Al-Qur'an, yaitu Alhamdulillaahi Rabbi l-'alamiin (Al-Fatihah). Ini adalah tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur'an agung yang diberikan kepadaku."



Oleh karena keutamaannya itu, maka membacanya menjadi bagian dari rukun shalat. Shalat tidak akan menjadi sah tanpa membaca Al-Fatihah. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak membaca Al-Fatihah." (Muttafaq 'alaih)

Surat dalam Al-Qur'an lainnya yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Baqarah dan Ali Imran. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Bacalah surat Az-Zahrowain, yaitu Al-Baqarah dan Ali Imran. Karena sesungguhnya keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua buah awan atau seperti dua kawanan burung yang sedang terbang berbaris membela orang-orang yang biasa membacanya. Bacalah surat Al-Baqarah karena membacanya membawa berkah sedangkan meninggalkannya akan menyebabkan penyesalan. Surat ini tidak akan bisa dibaca oleh para tukang sihir." (HR. Muslim)



Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, tidak akan bisa dimasuki setan." (HR. Muslim)



Surat lainnya yang mempunyai keutamaan khusus adalah surat Al-Ikhlas. Dalam Shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Abu Said Al-Khudri bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Demi Dzat yang menguasai jiwaku, sesungguhnya ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an."



Selain itu, surat yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Falaq dan An-Nas, atau biasa disebut mu'awwidzatain. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tahukah kamu beberapa ayat yang diturunkan pada hari ini yang belum pernah sebanding dengannya? Yaitu Qul 'a'udzibi Rabbi l-falaq, dan Qul 'a'udzubi Rabbi n-nas." (HR. Muslim)



Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita untuk bersungguh-sungguh memperbanyak bacaan Al-Qur'an yang penuh berkah, apalagi di bulan Ramadhan. Para Salafush Shalih dahulu selalu memperbanyak bacaan Al-Qur'an di bulan Ramadhan. Imam Malik, jika Ramadhan tiba, maka beliau berhenti dari membaca hadits dan majelis-majelis ilmu (berhenti mengajar) untuk kemudian berganti membaca Al-Qur'an. Imam Qatadah selalu meng-khatam-kan bacaan Al-Qur'an setiap tujuh hari sekali, sedangkan pada bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap tiga hari sekali, dan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap hari.



Membaca

Membaca Al Quran termasuk amal yang sangat mulia, dan Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi yang melakukannya. Seorang mukmin akan menjadikan Al Quran sebaik-baik bacaan di kala senang maupun susah, gembira ataupun sedih. Malahan membaca Al Quran bukan saja menjadi amal ibadah, tetapi juga menjadi penawar/obat bagi jiwa (Q.S. Fushshilat :44)

Dimanakah letak keutamaan atau kelebihan martabat orang yang membaca Al Quran?



Rasulullah menyatakan dengan 4 perumpaman "Perumpamaan orang Mu'min yang membaca Al Qur'an adalah seperti Bunga Utrujjah (baunya harum dan rasanya lezat), orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur'an adalah seperti Buah Kurma (baunya tidak begitu harum, tapi manis rasanya), orang munafiq yang membaca Al Qur'an ibarat Sekuntum Bunga (berbau harum, tetapi pahit rasanya), orang munafiq yang tak suka membaca Al Qur'an tak ubahnya seperti Buah Hanzalah (tidak berbau dan rasanya pahit sekali).(HR.Bukhari & Muslim)



"Ada dua golongan manusia yang sungguh-sungguh orang dengki kepadanya, yaitu orang yang diberi oleh Allah Kitab Suci Al Qur'an ini, dibacanya siang dan malam; dan orang yang dianugerahi Allah kekayaan harta, siang dan malam kekayaannya itu digunakannya untuk segala sesuatu yang diridhai Allah" (HR. Bukhari & Muslim).



Rahmat Allah SWT terhadap orang yang membaca Al Quran sangat besar.seperti dijelaskan oleh Hadist "kepada kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah ibadah, membaca Al Qur'an secara bergiliran dan mengajarkannya kepada sesama, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketentraman, akan terlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, dan Allah akan selalu mengingat mereka "(Muslim dr. Abu Hurairah).



Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi orang yang membaca Al Quran, seperti yang di katakan oleh Ali bin Abi Thalib: 50 x kebajikan dari tiap-tiap huruf yang diucapkannya, yaitu orang yang membaca Al Quran dalam shalat, 25x kebajikan, yaitu membaca Al Quran diluar sholat dengan berwudhu', 10 x kebajikan, yaitu: membaca Al Qur'an diluar sholat dengan tidak berwudhu')



Mendengarkan bacaan Al Quran

Mendengarkan orang membaca Al Quran pahalanya sama dengan orang yang membacanya. Tentang pahala orang mendengarkan bacaan Al Quran (QS. 7 :204)

Semakin sering orang membaca dan mendengarkannya, semakin tertarik hatinya kepada Al Quran. Apalagi jika Al Quran dibaca dengan lidah yang fasih, suara yang baik & merdu akan lebih berpengaruh kepada jiwa yang mendengarkannya. Keadaan orang mukmin tatkala mendengarkan bacaan Al Quran digambarkan pada (QS. 8:2) . Rasulullah pun sangat suka mendengarkan bacaan Al Quran dari orang lain.



Membaca Al Quran sampai khatam

Seorang mukmin yang begitu dalam cintanya kepada Al Quran, ketika ia membaca Al Quran seolah-olah jiwanya mengahadap kehadirat Allah SWT, menerima amanat dan hikmat suci, memohon limpah karunia serta rahmat dan pertolongan-Nya. Sehingga tidak ada suatu kebahagiaan di dalam hatinya , melainkan bila dia dapat membaca Al Quran sampai khatam dengan keikhlasan hati.



Adab Membaca Al Quran

Imam Alghazali didalam kitabnya Ihya Ulumuddin menguraikan bagiamana tatacara membaca Al Quran: Adab batin dan adab lahir



1. Adab batin yaitu dengan hati dan jiwa: Bagimana cara hati membesarkan kalimat Allah SWT. Dia harus yakin bahwa kalam yang dibacanya adalah bukanlah kalam manusia, melainkan kalam Allah Azza wa Jalla.


2. Adab lahir:

  • disunatkan membaca Al Quran sesudah berwudhu, lalu mengambilnya dengan tangankanan, dan memegangnya dengan ke 2 belah tangan.
  • disunatkan membacanya di tempat yang bersih, (surau , rumah mushallah), yang paling utama di Mesjid.
  • disunatkan menghadap ke kiblat, khusuk dan tenang, sebaiknya dengan pakaian yang pantas.
  • ketika membaca, mulut hendaknya bersih
  • Sebelum membaca disunatkan membaca Ta awwudz
  • disunatkan membaca Al Quran dengan tartil (Q.S. 73:4)
  • bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al Quran disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat tsb dan maksudnya.
  • disunatkan membaca Al Quran dengan suara yang bagus lagi merdu (Zayyinulquraanabiaswaatikum) Janganlah diputuskan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain.

Batas untuk mempelajari Al Quran itu hanya bila seseorang sudah diantar ke liang kubur.


__________________________________________________________________




tulisan ini put post karena mendengar seorang sahabat yang berkata "jangan terjebak dengan kebiasaan balapan tilawah, karena "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.", akan tetapi adalah sisi lalin dalam berfastabiqul khairat dengan meraih fadhilah membaca Al quran yang lain..ketika sebegitu banyak fadhilah membaca Al qur'an, justru jangan terjebak hanya dalam satu paradigma yang menghambat.. put ingin membalik pertanyaannya, "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." lalu ketika ingin mengajarkannya maka Belajarlah Al Qur'an, dan bukan kah kebiasaan balapan tilawah ini juga ada di sirah nabawiyah??? hmm.... ^_^ jadi, tak masalah kok terjebak dalam pertanyaan "SUDAH BERAPA JUS TILAWAHNYA...???



Wallahu'alam bishawab...

19 July 2010

Mereka juga punya keinginan...

Setiap orang memiliki hak nya untuk merasakan bahagia, untuk merasa bahwa dirinya lebih dari sekedar biasa saja, untuk merasakan bahwa dia juga cantik/tampan/atau memiliki pesona...

Suatu hari, put pernah berkata,
"jika kalian membutuhkan inspirasi dalam waktu singkat, maka lakukanlah safar..! dan kalian akan melihat bahwa begitu banyak hikmah yang terhampar..", lebih kurangnya seperti itu. Dan bukan merupakan sebuah kebetulan jika beberapa hari yang lalu puput melakukan safar dalam rangka menunaikan amanah dan tentunya "mencari inspirasi". Biasanya put melakukan safar atau perjalanan dimulai dari pagi hari, kala mentari masih mengintip malu-malu dari selimut peraduannya. Dan, sambil meresapi kesucian pagi, put merenung dan melemparkan seluruh pandangan ke sekeliling put.


Mungkin kalian pernah melihat adegan seperti ini.
"Seorang anak gadis-mungkin berjalan melewati kalian, dari aroma tubuhnya tercium agak pahit dan sedikit asam-ciri khas orang-orang yang belum mandi. Rambut sang gadis berwarna agak kemerahan, ntah karena efek pewarna rambut atau karena saking seringnya berjemur dibawah terik mentari. Kulit wajah coklat kehitaman, dan berminyak. Dari laku nya tak seperti orang-orang yang sudah kehilangan kesadarannya, tak ada yang tampak tidak normal, semuanya terlihat biasa. KECUALI : lipstik pink menyala yang dipoles dibibir dengan polesan yang tidak terlalu merata-terlihat sepertinya yang memoleskan lipstik bukanlah seseorang yang ahli dalam bidang tata rias, dan baju berwarna shocking pink dengan model leher dan bahu terbuka model distro -sepertinya, sendal high heels, celana jeans, kipas di tangan, dan bando pita-pita berwarna kuning. Dan sangat terlihat jelas baris-baris kuku yang sedikit menghitam. "

Apa yang terbayang di benak kalian ketika pertama kali melihat penampilan gadis tersebut? karena JUJUR, ketika pertama kali saya melihat gadi tersebut saya langsung mengerinyitkan dahi. Ada yang mengganjal. Yah! terlihat, mungkin sepertinya sang gadis adalah seorang tunawisma, atau seseorang yang memiliki tingkat ekonomi jauh dibawah rata-rata. 

Cara berpakaiannya saat itu mungkin tak jauh berbeda dengan cara berpakaian gadis-gadis metropolis lainnya, sama saja. Tapi, tetap saja ada yang mengganjal. Yah, kita tetap saja melihatnya sebagai seorang maaf gelandangan. Astagfirullahaladzim, Ya Allah ampunilah segala bersit kesombongan yang terlintas di hati hamba...

Hingga suatu saat, saya kembali menemukan kondisi yang sama. Tidak hanya di tempat yang sama (waktu itu di terminal), tapi juga di pasar, foodcourt mall, dan di pemukiman penduduk. Dan di pemukiman penduduk inilah saya lebih mampu melihat dengan jelas, bahwa mereka yang memiliki kondisi kesejahteraan dan keuangan minim juga memiliki hasrat dan keinginan untuk bisa tampil gaya, cantik/tampan, keren, dan tidak terkesan kumuh. Dan ternyata, siapapun juga memiliki kecenderungan untuk menjadi seperti itu. Termasuk put, mungkin kalian juga. Yang tiap hari, berfikir model apa yang akan saya pakai hari ini? kerudung warna apa? atau bros yang sepeti apa?? dan sebagainya..Hingga saya sadar bahwa Setiap orang memiliki hak nya untuk merasakan bahagia, untuk merasa bahwa dirinya lebih dari sekedar biasa saja, untuk merasakan bahwa dia juga cantik/tampan/atau memiliki pesona...
Silahkan berkonklusi atas cerita yang put paparkan, tiap orang memiliki paradigmanya masing-masing. Yang pasti saat ini put rasakan bahwa, put tidak bisa merasa lebih tinggi dari orang lain ataupun meremehkan orang lain atau pun merendahkan keinginan orang lain, karena bisa jadi dalam kerendahan orang lain adalah diri kita yang lebih rendah. # to be continued...

15 July 2010

Dua tetes Air mata



Alkisah Ahmad bin Miskin hidup dengan istri dan anaknya yang masih kecil. Kesusahan menderanya terus-menerus. Tak ada pekerjaan yang dilakukannya. Suatu malam, setelah seharian tak secuil makanan masuk kedalam perutnya, hatinya gelisah dan tak dapat tidur. Hatinya perih seperti perutnya yang keroncongan. Seperti prajurit yang kalah perang, ia lesu, lemah-lunglai, dan tak ada harapan. Anaknya menangis seharian, karena tak ada air susu dari istrinya yang lapar. Sungguh kefakiran ini membuatnya sangat menderita. Timbul pemikiran darinya untuk menjual rumah yang ditempatinya.

Esok harinya, usai shalat shubuh berjamaah dan berdoa, ia menemui sahabatnya Abdullah as-sayyad. “Wahai Abdullah! Bisakah kau pinjamkan aku beberapa dirham untuk keperluan hari ini. Aku bermaskud menjual rumahku. Nanti setelah laku akan kuganti,” kata Ahmad.

“Wahai Ahmad. . . ambillah bungkusan ini untuk keluargamu dan pulanglah! Nanti aku akan menyusul kerumahmu membawakan semua kebutuhanmu itu,” jawab Abdullah cepat. Maka Ahmad pun pulang kerumah sambil terus merenung untuk menjual rumahnya. Sungguh sakit kalau harus menjual rumah satu-satunya, sekadar untuk makan. “Setelah itu, saya akan tinggal dimana,” renung Ahmad.

Ahmad segera memantapkan langkahnya. Kini ia membawa bungkusan makanan untuk keluarganya. Tentu istrinya akan gembira dan anaknya akan tertawa lucu setelah memperoleh air susu. “ Terasa nikmat roti yang dibungkus ini tentunya. Sahabat Abdullah memang sangat dermawan, sahabat sejatiku,” desah Ahmad.

Belum sampai setengah perjalanan, tiba-tiba seorang wanita dengan bayi dalam gendongan menatap iba. “Tuan, berilah kami makanan. Sudah beberapa hari ini kami belum makan. Anak ini anak yatim yang kelaparan, tolonglah. Semoga Allah swt. Merahmati tuan,” ratap ibu itu.

Iba rasa hati Ahmad. Ditatapnya bayi yang digendong wanita itu. Tampak wajah yang layu, pucat kelaparan. Wajah yang mengharap belas kasihan. Sungguh melas, tak sanggup Ahmad memandangnya lama-lama. Dibandingkan keluargaku, mungkin ibu dan anak ini lebih membutuhkan. “Biarlah aku akan mencari makanan lain untuk keluargaku,” Ahmad membatin. “Ini ambillah bu. . . aku tak punya yang lain, semoga dapat meringankan bebanmu. Kalau saja aku punya yang lain mungkin aku akan membantumu lebih banyak,” kata Ahmad sambil menyerahkan bungkusan yang sama sekali belum disentuhnya.

Dua tetes air mata jatuh dari mata sang ibu, “Terima kasih. . .terima kasih tuan. Sungguh tuan telah menolong kami dan semoga Allah membalas budi baik tuan dengan balasan yang besar,” si ibu berterima kasih dan menunduk hormat. Maka Ahmad pun meneruskan perjalanan.

Ia beristirahat bersandar di batang pohon sambil merenungi nasibnya. Namun, ia kembali ingat bahwa sahabatnya Abdullah telah berjanji akan datang membawakan keperluannya. Dan Abdullah tak pernah ingkar janji sekalipun. Maka bergegas ia pulang dengan perasaan harap-harap cemas. Di tengah jalan dia berpapasan dengan sahabat baiknya Abdullah.

“Wahai Ahmad kemana saja engkau,” tegur Abdullah tersengal-sengal. “Aku mencarimu kesan-kemari. Aku datang kerumahmu membawakan keperluanmu yang aku janjikan. Namun, ditengah perjalanan aku bertemu dengan saudagar dengan beberapa onta bermuatan penuh. Dia ingin bertemu ayahmu. Dia bilang ayahmu pernah memberi pinjaman 30 tahun yang lalu. Setelah jatuh bangun berdagang, sekarang ia telah menjadi saudagar besar di Bashrah. Kini ia akan mengembalikan uang pinjamannya, keuntungan serta hadiah-hadiah,” jelas Abdullah. “Sekarang segera pulanglah Ahmad! Harta yang banyak menunggumu. Tak perlu kau jual rumah lagi,” kata Abdullah.

Kaget bukan kepalang Ahmad mendengar perkataan sahabatnya Abdullah. Sungguh ia tak percaya dengan perkataannya itu.

“Benarkah Abdulah, benarkah?” tanya Ahmad ragu-ragu. Maka, ia berlari seperti terbang, pulang kerumahnya. Sejak itulah Ahmad menjadi orang kaya raya di kotanya.

Ahmad gemar berbuat kebajikan, apalagi kepada sahabatnya Abdullah. Pada suatu malam ia bermimpi. Sepertinya saat itu amalannya dihisab oleh para malaikat. Maka pertama-tama, dosa dan kesalahannya ditimbang. Wajahnya pucat. Berapa berat dosa yang dimilikinya. “Apakah amal kebaikan yang dilakukan dapat melebihi dosa-dosa itu?” Ahmad membatin.

Perlahan-lahan amal kebaikannya ditimbang. Pahala berderma dengan lima ribu dirham hanya ringan-ringan saja. Kata malaikat karena harus dipotong oleh kesombongan dan riya. Demikian seterusnya. Ternyata seluruh amalannya tetap tak bisa mengimbangi beratnya dosa yang ia lakukan. Ahmad menangis.

Para malaikat bertanya, “Masih adakah amal yang belum ditimbang?” “Masih ada,” kata malaikat yang lain. “Masih ada, yakni dua amalan baik lagi.”

Ternyata salah satunya adalah roti yang diberikannya kepada anak yatim dan ibunya. Makin pucatlah wajah Ahmad. “Mana mungkin amalan itu dapat menyeimbangkan dosa-dosanya yang berat,” keluhnya. Malaikat pun sibuk menimbang roti itu. Namun, ketika ditimbang, ternyata timbangan langsung terangkat. Betapa beratnya bobot amalan itu. Kini timbangan ahmad tetap seimbang. Wajahnya sedikti tenang. Ia gembira, sungguh diluar dugaannya.

“namun amalan apalagi yang tersisa? Karena ini masih seimbang,” katanya dalam hati.

Maka malaikat pun mendatangkan dua tetes air mata syukur dan terharu ibu anak yatim atas pertolongan Ahmad. Ahmad tak menyangka kalau tetesan air mata ibu anak yatim dinilai dengan pahala untuknya. Ia bersyukur. Para malaikat pun menimbang tetes air mata. Namun, tiba-tiba dua tetes air mata itu berubah menjadi air bah bergelombang dan meluas bak lautan. Lalu dari dalamnya muncul ikan besar. Kemudian malaikat menangkap dan menimbang ikan itu yang disetarakan dengan amalan baik Ahmad.

Ketika ikan menyentuh timbangan, meka seperti bobot yang sangat berat, timbangan pun segera condong kearah kebaikan. “Dia selamat, dia selamat,” terdengar teriakan malaikat. Gembiralah hati Ahmad.

“Sekiranya aku mementingkan diri dan keluarga sendiri, maka tak adalah berat roti dan ikan itu,” Ahmad termenung gembira. Anak yatim dan ibunya itu yang telah menyelamatkan dirinya. Pada saat itu Ahmad terbangun dari mimpi.

Saudara-saudariku, sungguh amal yang ikhlas di tengah kesempitan, bernilai tinggi di mata Allah swt.


Semoga kisah tersebut dapat membawa hikmah bagi kita semua, aamiin…

08 July 2010

Quotes AEP (cuapz..!!)


Kita jatuh bukan untuk mengeluh..Satu-satunya tujuanNya hanyalah agar kita bertransformasi menjadi pribadi-pribadi tangguh!! Allah tidak akan pernah memberikan ujian bagi mereka yang tidak memiliki kualitas untuk menyelesaikannya dengan sukses.. Wahai diri, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Ilmu Hakikat..

Beberapa hari yang lalu, hmm.. tidak! Tepatnya kemarin. Saya kebetulan sedang menanyakan sesuatu dengan salah seorang teman lama yang secara kebetulan pula seorang penganut aliran tarekat, dan menurut saya secara kebetulan pula sangat nyaman untuk di ajak berdiskusi tentang kehidupan dan hakekat kehidupan, mungkin karena background S1 yang sedang berusaha dirampungkan (kebetulan beliau juga seangkatan dengan saya, angkatan 2005) berlatar belakang hukum sehingga pengetahuannya tentang kehidupan dan “pergaulan” kota lebih banyak mewarnai dirinya. Saya cukup banyak berdiskusi tentang kesufian dan kefilsafatan kepada beliau, dan Subhanallah! Hidup itu memang benar-benar berwarna.

Allah memang telah menciptakan manusia dengan “kepluralitasannya”, dan sunnatullah begitu indah.

Oke, langsung saja ke inti cerita. Beberapa hari yang lalu, tema
n saya ini tiba-tiba sms :

“Puput, saya mimpi in kamu balikkan lagi sama mantan kamu yang kedua.”

Hehehe.. kontan saya tersenyum. Cukup tersenyum, tak pantas rasanya menertawakan diri sendiri. ^_^ boro-boro balikan, kapan pacarannya? Hehe.. tapi bagaimanapun saya sangat berterima kasih kepada apresiasi beliau terhadap saya, sampai-sampai memimpikan saya segala, hhehehe..(*peace bung *A*A, hehehe...). mungkin yang beliau maksud adalah seseorang yang pernah terlibat “konflik cinta” dengan saya. Anyway, saya pribadi secara tegas tidak mempercayai “isyarat mimpi” selain dari isyarat mimpi yang di tuntun dalam Al qur’an dan Sunnah. (*Risalah mimpi dalam islam). ^^v

Yang saya pahami, orang-orang tarekat sangat mempercayai “firasat” yang datang kepada mereka. Karena titik utama “gerakan” mereka adalah mendekat kan diri sedekat-dekatnya kepada Allah dengan merenungi semua ayat-ayat Allah, baik Qauniyah dan Qauliyah. Dengan pencapaian tertinggi adalah dengan merasakan bahwa Tuhan berada di dalam dirin
ya (Red: bukan sebagai titisan Tuhan, klo sudah seperti ini sudah cukup dikatakan sesat). Sehingga tak jarang firasat-firasat yang mereka rasakan terkadang memang menjadi sebuah kenyataan (Wallahu’alam, ilmu saya belum sampai kearah sana).




Banyak dari ulama besar tarekat/sufi ini yang menuangkan dan mengekspresikan perenungan terdalam mereka dengan Allah dalam sajak-sajak yang memiliki arti begitu mendalam. Contoh dari ulama besar mereka yang saya kagumi adalah “Ibnu At Thailah, dan Jalaludin Rumi”. Ekspresi kecintaan dan kedekatan mereka kepada Allah di tuangkan kedalam kitab-kitab penuh makna. Yang sampai sekarang tak henti-henti orang-orang mengagumi dan menggunakan kalimat-kalimat ekpresi cintanya sebagai tuntunan bijak dalam kehidupan. Bagi yang pernah nonton film “Ketika Cinta Bertasbih” pasti tahu puisi tentang cinta yang di bawakan oleh Husna dan Anna dalam adegan “talkshow” buku tulisan Husna. Sebuah makna cinta yang begitu dalam. ^_^ yang di tuliskan oleh perenungan cinta seorang sufi yang mendekatkan hati kepada Sang Ilahi.
Dan begitu saya ingin merasakan cinta terdalam yang dirasakan oleh para Sholihin yang lalu, merasakan ketenangan dalam jiwa. Gejolak cinta luar biasa kepada Sang Maha Pencinta.
Dan usaha saya (gak sampe masuk aliran tarekat juga siiyy.. heheu!) adalah dengan mendalami sosok mereka-mereka yang terbukti kedalaman cintanya kepada Allah.
Dan kembali saya ingin merasakan dan memperdalam galian pondasi cinta saya, memperkokoh tiang , dan mempertebal dinding kerinduan kepada Sang Maha Pencinta. Dan akhirnya memang begitu luar biasa, dan mungkin patut dicoba.
Membaca Syair-syair tentang cinta yang dibuat oleh mereka, atas perenungan terdalam oleh para sufi terdahulu. Dibawah ini saya link syair-syair tentang cinta yang dibuat oleh mereka, semoga menginspirasi :
Kerana cinta duri menjadi mawar
kerana cinta cuka menjelma anggur segar
Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota penawar
Kerana cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti taman
Kerana cinta api yang berkobar-kobar
jadi cahaya yang menyenangkan
Kerana cinta syaitan berubah menjadi bidadari
Kerana cinta batu yang keras
menjadi lembut bagaikan mentega
Kerana cinta duka menjadi riang gembira
Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat
Kerana cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Kerana cinta sakit jadi sihat
Kerana cinta amarah berubah
menjadi keramah-ramahan

~ Jalaludin Rumi ( Penyair Sufi )

23 June 2010

Maa wadda’aka Robbuka wamaa qola (Tak kan sekali-kali Tuhan mu meninggalkan kamu..!)


“Yaa Hayyu, Yaa Qayyum bi rahmatika astaghits,ashlihli sa’n kullih walatakilni ila nafs thorfata ‘ayn..” (Wahai yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri, dengan kasih sayangMu, sayangilah aku, dan janganlah Kau tinggalkan aku walau sekejap mataku..)













Setiap manusia memiliki caranya sendiri untuk melipur hati. Ketika rasa sedih tiba-tiba menghampiri atas beban yang semakin menghimpit, maka dengan begitu normal nya tubuh akan bereaksi. Dan setiap reaksi yang terjadi terkadang berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Begitupun dengan aku. Melakukan beberapa cara untuk mengantisipasi, dan mengusir rasa sedih.


Seperti yang pernah kulakukan beberapa waktu yang lalu.

Salah satu cara yang aku lakukan adalah dengan “mencari inspirasi”, dan salah satu cara yang paling sering aku lakukan adalah dengan mengirimkan pesan pendek pada sebagian besar sahabat yang nama-nama nya bertengger di list contact. Ketika dulu sekali, pertanyaan yang ku ajukan lebih ke “Semangat dan apa yang membuat semangat”, maka kali ini tema yang aku tanyakan adalah tentang “Apa yang mampu membuat tersenyum dan apa yang dilakukan ketika sedang bersedih”. Baru sepertiga dari list kontak yang ku kirim, dan Alhamdulillah sangat banyak sahabat yang mengapresiasi dan membagi pengalaman, sehingga otomatis mentransfer sebentuk energy untuk melawan kesedihan, dan tentu saja sebentuk inspirasi berharga.


Lalu, Apa yang mampu membuat mereka tersenyum?

Kebanyakan dari mereka menjawab kehadiran dan dukungan orang yang disayangi, baik itu orang tua, sahabat, pasangan, dan sebagainya. Namun tak sedikit pula yang menjawab harapan, dan keyakinan bahwa Allah selalu memiliki jalanNya sendiri dan tak akan pernah meninggalkan hambanya yang mau melangkah dan memohon kepadaNya.


Salah satu jawaban yang menjadi favoritku adalah :


Dengan mentafakuri ayat yang dikirimkan oleh salah seorang sahabat :


1. “Alangkah nikmatnya menjadi seorang muslim, hidup dengan nikmat, penuh kesyukuran, dan tiada seorang muslim pun yang tertusuk duri melainkan Allah ganti dengan ampunan dan pahala padanya. Sungguh tiada yang dirugikan dalam ketetapan Allah”
Hidup tak selamanya indah, langit tak selamanya cerah.. itulah lukisan alam.

2. Memaknai surah Adh Dhuha, Allah telah berulangkali bersumpah dan diakhir penyataan, Allah menyatakan bahwa “Maa wada’aka Robbuka wa maa qoola..” (Takkan sekali-kali Tuhanmu meninggalkanmu..).


Ada ribuan alasan, yang mampu membuatku bangkit ketika mentafakuri ayat-ayat cinta dari Allah dan balasan pesan dari saudaraku yang satu ini kembali menampar pintu hati untuk tetap bertahan dan bertarung dengan segenap hati, jiwa, dan raga. Karena Allah tidak akan pernah memberikan ujian bagi hambaNya yang tidak memiliki kualitas untuk menyelesaikan ujian tersebut. Dan ujian adalah sebuah bentuk apresiasi dari Allah bagi seorang hamba yang beriman.

Lalu kemudian, Apa yang dilakukan ketika sedang bersedih?

Alhamdulillah memang ternyata fitrahnya seorang manusia adalah dengan menghamba. Dan ini adalah salah satu pembuktiannya. Ketika seorang hamba bersedih, maka kembalinya yang terbaik adalah kepada TuhanNya. Bukankah Allah telah menyatakan dalan firmanNya “berdo’alah kepadaKu niscaya akan kukabulkan..”, lalu mengapa kita lantas tak percaya, melainkan dengan kefitrahan seorang hamba sebagai bentuk penghambaan. Dalam balasan pesan yang kukirimkan hampir semua yang membalas melakukan sholat, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah. ^^

Lalu saya kembali berfikir, ternyata ujian itu datang sebagai bentuk pendekatan diri kepada Sang Kekasih Sejati. Dia merindukan kita, maka dengan kuasaNya di datangkan lah ujian-ujian itu agar kita mau medekat kepadaNya. Lalu terujilah kita sebagai hambaNya yang beriman. InsyaAllah.


Wallahu’alam bishawab...

TERIMA KASIH yang sebesar-besar nya bagi para sahabat yang mau mengapresiasi, semoga inspirasi yang di berikan serta energi yang dikirimkan mampu menjadi ladang amal tak henti dan terus mengalir. ^^

“Teh Rani, Dea, Gemma, Kak Arya, Teh Desi, Nur Fatihah, Jaya, Chika, Reina, Dwi Nur, Kosih, Opik, Fia, Endang, Teh Fatim, Teh Arti, Doni, Lukman, Bang Yudi, Masan, Inun, Awo, Cahoy, Nizar, Bang Fakhrul, Oleh, Rena, Affan, Kang Andri, Achyar, Lutfan, Teh Iyan, Frida, Putri, Teguh, Elni, Rara, Reny, Ganies, Kak Anggi, Marina, Andre, Aliph, Mela, Lia, Nelis, Kak Donny, Bang Hasido, Kang Arya, Kang Jampe Harumpat, Tedi, Jaka, Adit, Nenna, Ozon, Ipin, Dini, Abidah, Pak Isa Alamsyah, Dilal, Wara, Teh Winda, Dek Rizky, Yanuar, Wulan, Kang Wawan, Yuni Murni, Uni Winryani, Teh Nad, Ayu, Tere, Suen, Suryandaru, Teh Anggit, Mbak Eka, Ulil, Bang Yudi, Andri Cewek, Kang luhur, Kang Mahfudz, Maria, Susi, Teh Bunga, Ahas, Lola, Kang Guntur, Utez, Nelly, Dini, Teh Tita, Willy, Teh Irma, Kang Izul, Teh Elly, Elah, Kang Koben, Dian, Kang Jaya, Teh Aip, Bobby, Haidar, dan Reno…”

14 June 2010

AKU BISA..!



Satu kalimat nanggung dari orang lain yang dikatakan kepadaku dan merupakan satu kalimat yang paling aku sukai karena benar-benar mampu membuatku tersenyum adalah ketika mereka mengatakan :

“Pasti Bisa..”.

Seakan seluruh debur ombak menderu mendorong perahu ku menepi di teluk pencapaian dan cita, seolah seluruh gunung mengangkat pundaknya menopang langkahku menuju awan impian yang menjadi kenyataan, seolah seluruh pusaran angin mengibaskan tangan kejayaannya menuju padang harapan. Dan semua cita seakan berada di depan mata melambai penuh tawa bahagia, menunggu nyata.

Seakan seluruh energi jagad raya mengalir merasuk hingga ke lubuk jiwa ketika kalimat “Pasti Bisa..” yang di ucapkan oleh orang lain untuk kita itu terngiang.

Kata-katamu memang mempengaruhi lingkunganmu, ketika kau berkata positif maka energi positif akan mengalir di sekitarmu. Begitupun sebaliknya. Maka, jangan buang energimu untuk mengeluarkan dan atau mendengarkan kata yang justru malah menguras energimu. Katakan yang baik atau diam. Dengarkan yang baik atau tinggalkan. Energimu terlalu berharga jika hanya akan dihabiskan dengan mengeluh, kesah, dan bersedih.

Now, All you have to do just stand up and say : You Can Do It..!! Must Be Can Do It !! Surely Can Do It..!! Absolutely Can Do It..!!





07 June 2010

Air dan Garam, Hati dan Kehidupan... :))




Ni cerita mungkin dah banyak banget tersebar,,tapi tetap saja ketika hikmah itu ada...maka sudah sepantasnya lah kita dapat mengambil kisah dari setiap kisah yang ada...

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. "Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya. "Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda. Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta. "Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. "Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru. "Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. "Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya. "Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?" "Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya. "Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?" "Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas. "Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah." Si murid terdiam, mendengarkan. "Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.

Dalam pengembangan ceritanya,,,
Klo cerita diatas mngatakan bahwa ukurn hati yg paling baik adalah seukuran danau,tidak lebih kecil dari itu(seperti gelas) karena klo dikasih segenggam garam akan trasa asin.. Tp mungkin juga ukuran hati ga bisa lebih besar dari danau seperti samudra,karena klo samudra ga perlu dikasih segenggam garam jg udah asin..

dan cerita masih belum berlanjut.. (*ni improvisasi niyhhh!!!)

sang guru lalu mengambil gelas hadiah dari membeli sabun cuci. mengisinya dengan air dan gula. "coba kau masukan lagi segenggam garam ke dalam gelas ini. lalu minum" perintah guru ke muridnya. Lalu muridnya memasukan segenggam garam lagi dan meminumnya. "apa yang kau rasakan?" kata sang guru....

"rasanya sangat aneh guru." kata sang murid

"tapi perlu kau tahu. Rasa aneh itu adalah obat untuk perutmu yang mual. Jadi jika kau tidak bisa membuat hatimu menjadi danau, buatlah hatimu manis. karena hati yang manis jika diberi masalah akan mengobati orang yang memiliki hati itu menjadi manusia yang lebih baik."

Wallahu'alam..

*dikembangkan dari notes FB put..syukron buat yang udah menginspirasi.. ^_^